“And old rat is a brave rat” (pepatah Perancis)
Kejadiannya kemarin. Seperti biasa, antara jam 7-8 malam saya turun ke lantai bawah untuk menyalakan lampu ruangan dan teras depan. Sewaktu menuruni tangga saya melihat seekor tikus remaja di lantai bawah (saya ga tau umurnya, ga sempat tanya). Barangkali si tikus mau naik ke lantai atas (tempat saya) lewat tangga tapi tidak jadi karena melihat saya mau turun. Terakhir yang saya ingat, dia kelihatan bingung: berlari-lari kecil (maklum kakinya juga kecil) mencari jalan keluar. Lampu ruangan bawah belum menyala, jadi kondisinya sedang gelap. Nah, saya lihat si tikus akhirnya masuk ke kamar mandi yang (bukan kebetulan) pintunya sedang terbuka lebar. Ya sudah lah, sambil lalu saya nyalakan lampu seperti biasa.
Selang beberapa menit kemudian saya mendengar ada suara seperti orang mandi. Biasanya jam 7 malam orang-orang pabrik memang sering numpang mandi di kamar mandi bawah, tapi kok pintunya kebuka ya?? Sambil agak deg-degan (takut kalau si tikus tiba-tiba mencolot keluar) saya mengintip pelan-pelan ke dalam kamar mandi, tapi saya tidak melihat ada orang di dalam (catatan: lampu kamar mandi rusak, jadi gelap gulita). Seketika itu saya dapat firasat buruk: jangan-jangan ini suara si tikus kecebur bak mandi. Tidak mau ambil pusing, saya tinggal naik ke atas. Ternyata firasat saya benar. Pagi tadi saya masuk kamar mandi bawah (sudah lupa dengan firasat semalam) tapi langsung keluar lagi secepat kilat dengan perasaan deg-degan campur ngeri. Saya lihat di bagian dasar bak kamar mandi ada tikus mati. Innalillahi wa inna ilahirrajiuun. Setiap yang bernyawa pasti akan mati.
…………………………………..
Februari 2012, artinya sudah hampir 10 bulan saya tinggal di tempat saya yang sekarang. Tempat tinggal saya ini berupa bangunan tiga lantai mirip ruko, lokasinya di kawasan selatan kota Malang, tepatnya di sekitar perbatasan Pakisaji dan Kepanjen. Persis di depan tempat tinggal saya ada pemakaman umum full pohon Kamboja (konon kata orang-orang sekitar sini, kuburan ini dulunya super angker). Di sebelah kanan dan kiri ada ladang tebu dan sawah, sementara di belakang ada rel kereta api dengan latar belakang areal persawahan. Pertama kali pindah, ruangan masih carut-marut: di lantai bawah ada almari dan bupet bekas, tumpukan kayu, dipan kasur, dan kardus-kardus bekas (koyok kapal ngguling). Singkat cerita, ruangan dan kamar di lantai dua saya bersihkan (siap digunakan); sementara bupet, almari dan tumpukan kayu dipan di lantai bawah saya biarkan berantakan. Oh iya, saya tinggal di sini dengan seorang teman (dulu kuliah satu angkatan). Lha terus, opo hubungane karo tikus cak?!! .. gak usah ngotot ngunu cak! nyantai ae poo ..
Jadi begini ceritanya. Sejak bulan pertama sampai sebelum barang-barang di lantai bawah (bupet, almari, tumpukan kayu) dipindahkan ke ruang lain, hampir setiap malam saya dan teman saya selalu terlibat aksi baku hantam dengan geng tikus. Pada
awalnya kami biasa-biasa saja (sabar), tapi lama-kelamaan mereka semakin kurang ajar, bahkan anarkis. Ya sudah, apa mau dikata, “Si vis pacem, para bellum”—Jika mendambakan perdamaian, maka bersiap-siaplahlah menghadapi perang“ (wikipedia.org). Akhirnya saya dan teman saya menyatakan “war!” dengan para tikus tak tau adat itu! Awalnya kami hanya berusaha mencegah agar si tikus tidak bisa masuk menembus benteng pertahanan di lantai dua; caranya dengan meletakkan jirigen, ember, panci, selang dan perkakas dapur lainnya persis di depan kaki tangga paling atas yang berbatasan dengan ruang masuk ke kamar saya. Foto di atas kurang relevan—maklum adanya cuma ini—tapi tolong fokus saja di bagian belakang (itu adalah tangga yang menuju ke lantai bawah, sementara yang sedang saya aduk-aduk itu adalah fresh celethong alias kotoran sapi, mau??). Bagaimanapun, hasilnya mengecewakan. Para tikus tetap bisa melewati tanggul jirigen dan ember dengan mudah. Saya sendiri tidak tau bagaimana mereka bisa lolos, yang jelas tiap tengah malam saya bisa mendengar sorak-sorai suara tikus beserta sanak familinya saling berkejaran bahagia. Damn!!!.
Lalu saya dan teman saya berpikir bagaimana kalau beli racun atau gencet (jepretan) tikus?? Tampaknya saya dan teman saya sudah tahu bahwa ide untuk membeli racun dan jepretan tikus itu hanya sekedar retorika saja: kami berdua tidak berani terlalu dekat dengan hewan rodentia yanng satu ini, apalagi memegangnya. Lagipula, membunuh tikus tanpa alasan
yang dibenarkan oleh agama maupun UUD ’45 termasuk kategori tindak kejahatan, apalagi membunuhnya pake jepretan (ngeeekk!! leher tergencet lidah terjulur .. Ooohh .. no). Jadi sejak awal kami tidak pernah serius mau membeli racun dan jepretan tikus. Waktu terus berlalu, hampir setiap malam saya dan teman saya terlibat aksi kejar-kejaran dengan tikus. Saya bawa senjata sapu, teman saya bawa raket; besoknya saya bawa selang, teman saya bawa sandal; besoknya lagi saya bawa sapu, teman saya bawa gantungan baju/hanger (ate nggepuk tikus opo njemur kelambi whoiii..!). Begitulah yang terjadi setiap malam, menjengkelkan tapi juga mendebarkan (seru). Kali ini kami sudah mulai lelah dan bosan. Setiap hari musti kejar-kejaran sama tikus, dibuat deg-degan, bangun tengah malam sambil mengendap-endap bawa raket atau sapu. Lalu .. duaaaarr!! 2,3,5 ekor tikus loncat keluar dari balik kelambu jendela (setaaaaaaaan!! otomatis nyeplos). Parahnya lagi, ‘geng motor‘ yang satu ini sering bikin barang-barang porak-poranda; ngereketi kardus, kabel, sarung, sampek CD juga diembat (serius!). Arrghrghrghr!!
Saya berpikir bahwa tikus ini adalah hewan yang mbethik (bandel) dan pemberani. Meski lampu ruangan sudah dinyalakan dan berkali-kali diberi peringatan (diuber nganggo sapu sampek gulung kuming), tapi mereka seakan-akan tak peduli sama sekali: yang penting gerilya malam, syukur-syukur dapat makanan. Jika melihat kasus yang saya alami ini, semboyan “si vis pacem, para bellum” agaknya kurang tepat. Kalau sudah begini lalu bagaimana? Gampang saja. Saya dan teman saya, dengan dibantu seorang pekerja pabrik, memindahkan tumpukan-tumpukan kayu bekas di lantai bawah ke ruangan lain. Bupet dan almari bekas saya bersihkan dan saya tata ulang. Lantai ruangan saya sapu, dipel bersih pake SOS pembersih lantai; lampu ruangan yang sebelumnya rusak saya ganti dengan lampu baru. Taraaaaaa .. Alhamdulillah sudah sekitar 5 bulan terakhir ini saya tidak lagi lari-lari tengah malam bawa sapu. Sekali dua kali kadang masih melihat tikus lari-lari di ruang bawah, tapi saya biarkan, kalau mau coba-coba naik ke lantai atas ya silahkan saja (resiko ditanggung sendiri).
Dari kejadian ini pelajaran yang bisa saya ambil adalah:
Kalau mau mengusir tikus jangan langsung menggunakan cara-cara militeristik atau kekerasan, apalagi pakai cara-cara ekstrim (misal: bom bunuh diri). Cara paling gampang adalah dengan mengetahui apa yang tidak disukai tikus: nyala lampu; ruangan yang terang, bersih dan terbuka; musuh-musuh tikus (kucing, ular sawah, burung hantu, Tom, Abraham Samad). Dua yang terakhir itu khusus untuk tikus jadi-jadian .. Hehe
P.S (pesan sponsor):
Mengingat kemampuan dan strategi invasi tikus sudah sangat modern, sementara jumlah populasi musuh alaminya (ular sawah, burung hantu, apalagi burung elang) telah menurun secara drastis, maka situasi semacam ini bisa menjadi kesempatan yang baik bagi para sesepuh, pucuk pimpinan dan ahli militer tikus untuk terus berdiskusi sembari mengembangkan taktik invasi yang tidak hanya canggih, tapi juga agresif. Mereka kini tidak lagi gentar menghadapi kucing rumah, karena mereka tahu bahwa kucing rumah jaman sekarang lebih suka makan roti atau indomie goreng ketimbang makan tikus. Di sisi lain, mereka juga diuntungkan dengan maraknya aktivitas alih fungsi lahan pertanian, lahan terbuka, atau Daerah Aliran Sungai (DAS)—yang merupakan habitat bagi musuh alami tikus—menjadi pusat-pusat industri (pabrik), perbelanjaan (mall), ruko, perumahan, dll.
♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥
Posted by Gianluigi mario on February 16, 2012 at 9:00 am
nitip kandang cheetah :
http://learningfromlives.wordpress.com/2012/02/16/cheetah-si-pelari-jarak-pendek-tercepat/
Posted by gogo on February 10, 2012 at 10:13 pm
keren cerita bro.. kadang kasian klo liat tikus kejebak, bingung atau kecemplung air, tp begitu melihat aksinya ,bikin jengkel banget..
the battle Rat.. keren neh, ada gamenya keknya.. susah bener numpas seluruh armada perang tikus, ilmu stealth nya kelas dewa, mossad jelas kalah. perlu belajar lg neh jadi tikus hunter..
Posted by thesmilingchickpea on February 10, 2012 at 11:25 pm
tengkyu mas bro,
saya ga berani sama tikus, secara penampakannya mengerikan, tp gimanapun jeleknya sy tak tega klo hrs disuruh membunuh
klo ada serangan tikus bisa calling Jason Bourne
Posted by Gianluigi mario on February 10, 2012 at 1:42 pm
sik tak carikan ya, tunggu..
Posted by Gianluigi mario on February 10, 2012 at 1:48 pm
dahboard -> setting -> discussion ->Other comment settings
cari di baris ke 6 ada :
“Comments should be displayed with the …. comments at the top of each page”
“…” -> pilih newer.
OK?
Posted by Gianluigi mario on February 10, 2012 at 1:55 pm
ohya, imho(in my humble opinion) ada dua indikasi blog yg sehat :
- lebih dari 50% total view itu ‘homepage’ blog tersebut
- total referrer itu kurang dari 50% dari total view
kalau homepage sering diakses/view itu artinya pengunjung blog banyak yang berlangganan dg memeriksa situs sampean dan mengikuti mana yang terbaru..
Kalau lebih sedikit view kita berasal dari referrer (link dari orang lain), itu artinya blog kita lumayan mandiri, yaitu tanpa di refer oleh blog lain sekalipun, sudah banyak yang mengakses situs kita..
cmiiw (correct me if i’m wrong )
Posted by thesmilingchickpea on February 10, 2012 at 4:41 pm
top! top! top!
i got a lot of new things from superseiya3 ..
matur kasuwuuuuun
Posted by Gianluigi mario on February 10, 2012 at 6:42 pm
langkah mendapat banyak pemirsa, dimulai dari pemirsa yang pertama..

btw suda brp view
lg nyiapin new post kah??
Posted by thesmilingchickpea on February 10, 2012 at 11:21 pm
hehe .. sy bikin post tak cicil n tak sambi, komputer gantian sama teman .. view masih dikit gan, ga kenek gawe tuku es degan sak gelas
Posted by Gianluigi mario on February 11, 2012 at 1:00 am
tibakno gak kabeh koment paling baru diatas..
beberapa blogger papan atas malah sebaliknya
silakan kalau mau dibalikkan
Posted by thesmilingchickpea on February 11, 2012 at 8:48 am
nasi sudah menjadi bubur
Posted by Gianluigi mario on February 10, 2012 at 1:37 am
oya mas, kalau boleh usul, urutan komen yg paling baru itu diatas. biasanya begitu,,
piye?
Posted by thesmilingchickpea on February 10, 2012 at 1:39 pm
usul yg baik, tp bgmn cara ngatur urutan komen ya? sy cari di pengaturan tp ndak ketemu ..
Posted by Gianluigi mario on February 8, 2012 at 2:37 pm
gagal pertamax
Posted by Gianluigi mario on February 8, 2012 at 2:38 pm
anyway, jam sampean belum bener tuh ..
Posted by thesmilingchickpea on February 8, 2012 at 9:50 pm
superseiya3 memang jeli sekali .. top!!
Posted by thesmilingchickpea on February 8, 2012 at 9:49 pm
yang mana mas? oh iya, yang tikus super jumbo di dpn rumah itu ya?
Posted by Gianluigi mario on February 8, 2012 at 10:06 pm
hehe.. biasane istilah “gagal pertamax” = gagal menjadi yang komen pertama kali.. umumnya bgitu maksudnya..
Posted by thesmilingchickpea on February 8, 2012 at 10:14 pm
Oalah sy masih newbie jd tak paham sama istilah para superseiya3 ahahaha ..
Posted by Gianluigi mario on February 8, 2012 at 10:17 pm
boleh tau berapa lama ngetiknya mas ?
Posted by thesmilingchickpea on February 8, 2012 at 10:30 pm
tak sambi, nyicil kaet jam 9 isuk .. ahahaha
Posted by Gianluigi mario on February 8, 2012 at 10:43 pm
patut diapresiasi..
Posted by himamhqq on February 8, 2012 at 2:28 pm
heh ojo lali yo… Aku termasuk knight of rat killer kan aku yo pernah ‘bertempur’ karo tikus nang pakisaji dan berhasil membunuh hahaha
Posted by thesmilingchickpea on February 8, 2012 at 2:31 pm
iyo, awakmu ancen psikopat .. ndg tobat!