Sambil Menyelam Minum Air (Kolam)

Kemarin siang saya ikut teman bayar tagihan air ke kantor PDAM Kepanjen. Waktu mau balik ke Pakisaji, teman saya nawarin ngajak renang. Tanpa berpikir panjang (sekitar 5-10cm) saya terima tawarannya. “Panas-panas ngene iki renang uenak mak nyooong..”

Nggreng .. nggreng .. ngeeeeeeeng .. ciiiiiitt! sampailah di lokasi ..

JAM: 11(an).00 WIB

Setelah bayar uang sewa 6000 rupiah (belum termasuk asuransi tenggelam) saya langsung menuju TKP. Oh iya, saya juga sempat tanya ke pemiliknya (merangkap jadi kasir), “Apa di sini menyediakan ban untuk latihan renang ya buk?” Jawabnya “TIDAK!”. Wadduhhh.. alamat ngombe banyu iki.. Ya wes lah mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

Di dalam cuma ada 5 orang pengunjung: sepasang suami istri yang diberkahi seorang balita lucu, dan dua orang anak kecil umur 12-13 tahunan. Tempatnya tidak luas-luas amat, hanya ada dua kolam renang: satu untuk anak kecil, kedalaman sekitar 30-40cm (lebih mirip kolam ikan); satu lagi untuk orang dewasa, kedalaman 160cm. Selain menyewakan kolam renang, di sini juga menyediakan penginapan (tidak gratis) plus kantin kecil (sekilas saya lihat ada Indomie).

Okeh, sekarang saatnya nyebur. Berhubung tidak membawa baju ganti, saya renang pake baju dan celana apa adanya. Jlegurrr.. hadeeem.

Saya jalan pelan-pelan sambil mendekat ke arah tepi kolam untuk mencari pegangan. Kedalaman kolam 160cm, sementara tinggi tubuh saya 167cm, jadi masih tersisa 7cm di atas permukaan air. Meski ketingian air masih sebatas dagu saya, tapi itu sudah membuat saya cukup ketakutan dan gemetar. Maklum, saya tidak bisa renang, sama sekali. Tapi, bisa jadi yang membuat saya lebih ketakutan lagi adalah trauma masa kecil: tenggelam di kolam renang. Setau saya trauma masa kecil itu jauh lebih susah dihilangkan ketimbang trauma yang terjadi pada masa dewasa. Trauma masa kecil seringkali menjadi sumber ketakutan (phobia) bagi orang dewasa. Saya sendiri phobia dengan tempat-tempat yang gelap, dalam dan berair (sumur, danau, rawa-rawa, sungai Amazon). Ketakutan ini biasanya muncul dalam mimpi saya: terperosok ke dalam lubang yang dalam, melihat sumur, tercebur ke dalam danau, dllmimpi seringkali menggambarkan emosi-emosi terdalam kita. Saya pernah lihat film judulnya Shutter Island. Dalam film tersebut ada sebuah percakapan menarik antara Dr. Naehring (psikiater senior) dengan Teddy (seorang pasien sakit jiwa, diperankan oleh Leonardo Dicaprio). Si psikiater mengatakan kepada si pasien: “Did you know that the word ‘trauma’ comes from the Greek for ‘wound’?”. Ya, saya tahu pak! “trauma” dalam bahasa Yunani berarti “luka”. Sayang luka semacam ini tidak bisa diobati pakai Betadine atau Hansaplast :D

Dari dulu saya ingin sekali bisa berenang, tapi ya itu, setiap kali mencoba berenang mesti blukuthuk.. blukuthuk.. blukuthuk (ambles). Tapi itu bukan alasan bagi saya untuk tidak mau mencoba lagi. Bukankah Mr. Google telah mengabarkan secara sahih bahwasanya semua bayi terlahir dengan membawa sejumlah insting primitif, salah satunya insting berenang? Saya setuju dg Mr. Google, saya juga berkeyakinan bahwa insting ini pastilah masih tersimpan rapat di tempat asalnya. Yang saya perlukan hanyalah membebaskan si insting dari dalam brankas kunonya: unconscious mind (pikiran bawah sadar). Namun sayang seribu sayang, brankas digembok! Gemboknya pun bukan sembarang gembok (tidak dijual di toko-toko bangunan). Saya membayangkan gembok ini sudah terpasang sejak 22 tahun yang lalu, tepat sesaat setelah saya tenggelam di kolam renang di Sengkaling, Malang. Gembok itu adalah sejenis monster “rasa takut” yang bersumber dari trauma masa kecil saya.

JAM 13(an).00 WIB

Setelah selama hampir dua jam berendam sambil gulung kuming gak karuan di dalam kolam renang, dan beberapa kali menenggak air kolam yang rasanya mirip Bayclin (kalsium hipoklorit), akhirnya saya pun mengalami sebuah kejadian luar biasa. Apa itu (100x)? .. Saya bisa berenang sambil menyelam sejauh 3 meter sodara-sodara!! Sekali lagi, saya bisa berenang sambil menyelam sejauh 3 meter sodara-sodara!! Sungguh saya tak menyangka sebelumnya. Ini adalah sebuah kemajuan yang sangat signifikan bagi saya. Dan karenanya patut disyukuri.

Sejak pertama nyebur ke kolam, saya sudah berpikir bahwa yang paling penting buat saya bukan latihan menggerak-gerakan kaki dan tangan atau menyelam sambil menahan nafas. Yang paling penting adalah MELAWAN rasa TAKUT!! Jika saya tidak melepaskan pegangan tangan saya dari pinggiran kolam dan memberanikan diri berjalan ke arah tengah kolam, saya tahu gemboknya ga bakalan pernah bisa dibuka. Sungguh ini cobaan yang berat buat saya, terlebih rasa takut yang saya coba lawan ini berasal dari kedalaman ribuan meter di bawah permukaan alam sadar saya: bayangan tenggelam, gelap, seolah-olah berada di laut yang dalam, pokoknya ngeri lah. Mungkin terdengar hiperbolis atau alay, tapi memang begitulah yang saya rasakan. Hanya orang-orang yang pernah mengalami kejadian serupa dengan saya yang bisa memahami bagaimana rasanya menceburkan diri ke dalam kolam renang tanpa memegang ban (pelampung).

Puncak sekaligus akhir dari semua ‘penderitaan’ adalah ketika saya memberanikan diri menaiki tangga setinggi 2,5-3 meter dengan papan luncur di depannya (kemiringan sekitar 45-50º). Durung opo-opo jantung rasane tremor.

Saatnya tiba, saya pun mengambil posisi duduk sambil membujurkan kaki lurus ke depan (rasane kudu mlayu muleh ae aku maaaaaaaak). Teman saya sudah menunggu di bawah mengambil posisi ready untuk menolong. Sebelum meluncur saya berwasiat terlebih dahulu kepada dia, “begitu nyebur ke dalam air langsung pegang tanganku, aku takut kalau terlalu lama tenggelam di dalam air”. “Iyo, tenang ae, wes ndang cepet meluncur”, begitu kata teman saya. Haahhhh! Sumpahhh ndredeg poooll.. Akhirnya, sesaat setelah tangan saya lepaskan dari pegangan dan mulai meluncur, rasanya jantung seperti ditarik keluar, mak krenyeeeeng. Dalam hitungan detik saya pun meluncur menuju kolam dengan kecepatan mendekati cahaya. Byuuurrrr.. alhamdulillah sukses menelan air rasa Bayclin.

Setelah peluncuran yang pertama, saya tertantang untuk mengulangi lagi, lagi, dan lagi sampai 5x. Setelah puas maen prosotan, saya mulai berlatih berenang dengan menyelam sambil menggerak-gerakkan kaki dan tangan. Awalnya terasa agak berat, tetapi setelah saya ulangi beberapa kali akhirnya berhasil. Saya bisa berenang sambil menyelam sejauh 3 meter! Yes! Gembok sudah bisa dibuka! Kapan-kapan renang lagi ahhh ..

“Kalau ada sumur di ladang boleh saya menumpang mandi, kalau ada umur panjang saya pengen renang lagi” :D

Kesimpulan:

1. Trauma = luka, insya Allah bisa disembuhkan asal mau berusaha.

2. Keberanian = nekat + pasrah.

3. Berenang = insting primitif, bisa dilatih.

4. Berenang = menyenangkan di awal, melelahkan di akhir.

About these ads

19 responses to this post.

  1. Wahhh luar biasa… Emang kudu berani ya

    Reply

  2. Kemajuan besar ya mas? hehe btw kalau orang Indonesia ngga bisa berenang, sayang banget soalnya dari situ kita bisa belajar nyelam untuk bisa melihat dunia bawah laut Indonesia :D

    Reply

  3. nitip ahh.. :P

    http://learningfromlives.wordpress.com/2012/02/12/berapa-idealnya-penumpang-motor/

    iyo rasane agak janggal urutan komennya..
    brgkali aku sing keliru.. :shock:

    Reply

  4. Posted by himamhqq on February 11, 2012 at 10:18 am

    wah eman hama, sakjane mari renang, indomie rasa ayam bawang enak iku *ngiler

    Reply

  5. Posted by mas yud on February 11, 2012 at 3:58 am

    lebay

    Reply

  6. asalku isok renang yo klelep disek nang waduk jerune 4 meteran..
    berhubung pingin isok lan akeh konco, tetep ulang lagi (dan menelan air berulang2 lagi :) )
    ancen sing penting iku prinsipe Rango : “menghadapi rasa takut ” :mrgreen:

    Reply

  7. Posted by himamhqq on February 11, 2012 at 12:42 am

    lealah cuma 3 meter, lah indomie nang kantin iku piye nasib e?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: