Archive for the ‘Ceritaku’ Category

Hanami (花見)

Episode 1 (24 April, 2012 @Katahira campus, Tohoku University)

Karena teman saya ada kelas Kanji, sementara hari masih terlalu siang untuk pulang ke kos-kosan, akhirnya saya memilih jalan-jalan sendiri ke Katahira menggunakan bis kampus yang (entah kenapa) selalu datang dan pergi tepat waktu sesuai jadwal! (setau saya nyaris tak pernah telat lebih dari 5 menit). Perjalanan dari Kawauchi—tempat saya mengikuti kelas Bahasa Jepang—ke Katahira dengan menggunakan bis kampus membutuhkan waktu ±12 menit, tapi kalau jalan kaki bisa 40-50 menit atau bahkan satu jam lebih tergantung banyak faktor (ex: cuaca, umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan, uang, dkk).

Ngeeeeeeeng… ciiiiiiiiittt..!! (bis sampai di Katahira). Dan setiap kali sebelum keluar pintu bis, tak lupa saya mengucapkan “arigatou gozaimashita”..  biasanya si pak sopirnya bales “hai! itterashai”  <(^_^)

 

Salah satu bangunan utama di kampus Katahira.

Begitu keluar dari bis saya langsung menuju ke arah taman sambil bersiap-siap mengeluarkan HP untuk njepret sakura. Jumlah pohon sakura di kampus Katahira tidak begitu banyak, hanya berkisar puluhan, namun tetap saja sayang untuk dilewatkan mengingat kesempatan melihat sakura belum tentu datang dua kali.. Hehe. Oh iya, Katahira campus ini adalah salah satu dari lima kampus-nya Tohoku University, empat kampus yang lain: Kawauchi, Aobayama (tempat ane), Seiryo dan Amamiya. Oke, sekarang saatnya melihat sakura ..

Setau saya ini pohon sakura paling besar di Katahira, lokasinya di tengah taman dan paling sering dikunjungi orang untuk foto-foto.

Orang lain Hanami bareng-bareng, saya cuma bisa mengintip di kejauhan dari balik pohon (-_-)v

Ada beberapa species sakura, salah satunya seperti foto di atas: warna bunganya putih-pink, tangkai bunganya menjuntai ke bawah (bisa dipakai untuk alternatif Harakiri alias gantung diri) (^_^)v

Sejauh mata memandang, ini jenis sakura yang warnanya paling mencolok: pink-kemerahan (cocok untuk hadiah Valentine)

Barangkali sakura jenis ini yang paling banyak terdapat di Jepang, cantik tho? Hehe..

Selain motret sakura, saya juga motret orang terutama anak-anak, karena mereka lucu (Kawai, kalau kata orang Jepang). Saya lihat banyak ibu-ibu membawa anaknya yang masih balita ditaruh di kereta dorong sambil berjalan mengelilingi taman. Ini dia salah satu balita yang saya temui lagi main-main berdua sama ibunya (yang masih kelihatan muda).. Wkwkwk..

Adek sama siapa?” .. sama mamah ..salam ke mamah ya (karo bisik-bisik) ..

Satu lagi ibu-ibu (muda) saya samperin—si ibu lagi duduk sendirian sambil ngeliatin kedua anak laki-lakinya yang tengah bermain kejar-kejaran. Sambil pasang gaya malu-malu saya mendekati si mbak (panggil mbak aja ya berhubung masih muda). “Sumimasen, sashin wa daijoubu desu ka?“, sambil nunjukin HP dan ngasih isyarat mau minta tolong difoto`in. Wkwkwk… bahasa Jepangku ngawurrr! tapi si ibu langsung paham, “Hai! daijoubu desu“. Setelah selesai foto-foto, lalu saya duduk di rerumputan ga begitu jauh dari tempat si mbak tadi. Begitu melihat saya ndelosor di rumput, si mbaknya langsung menawarkan ke saya untuk bergabung di tempatnya (sambil tangannya menunjuk ke plastik biru yang dipakainya untuk duduk). “Yo wes lah lumayan ono konco ngobrol”, pikir saya dalam hati. Hai dozo..“, kata mbaknya sambil menyodorkan kue ke saya (rejeki gak oleh ditolak!). Selanjutnya.. kami ngobrol ringan, sampai akhirnya si mbaknya tanya ke saya “Hitori de..? kanojo wa doko? Indonesiajin, Nihonjin desu ka..?” (Kok dewean ae, pacare ndek endi? arek Indonesia opo Jepang?). Kapok koen!!

Kakak-beradik, Yuijiro (kanan) dan Yohe (kiri) .. Kawai desu neeeeeeee ..

Hanami adalah momen yang indah bagi seluruh warga Jepang, terlebih bagi mereka yang merayakannya bersama kekasih hati, seperti kakek-nenek ini ..

Kekalih mugi tansah pinaringan katentreman ..

Nampang aaaahh.. (^_^)v

Bersambung, Hanami Episode 2 ..

Hanami (花見 => Hana: bunga; Mi: melihat)

“Hanami lebih dari sekedar berjalan-jalan sambil melihat sakura. Hanami adalah menjadi sakura itu sendiri ..”

TERIMA KASIH

Alhamdulillahirabbil`alamiin,

Setelah menunggu selama tujuh bulan sejak Agustus 2011, akhirnya Senin kemarin (1 April, 2012) saya dan teman-teman penerima beasiswa Monbukagakusho yang lain sampai di Jepang.  Apa yang saya inginkan telah saya dapatkan, dan meski usaha untuk mencapai keinginan ini berasal dari niat dan gerak tubuh saya, tapi jika tanpa izin dan pertolongan Allah swt. maka sulit rasanya untuk  bisa menerima bahwa perjuangan selama setahun terakhir ini (mulai dari mencari professor, mengirim berkas seleksi ke Kedubes Jepang, tes tulis dan wawancara, urusan dokumen, sampai persiapan keberangkatan ke Jepang) adalah suatu hal yang bisa saya lalui. Pertolongan Allah berupa-rupa macam dan bentuknya, tak mungkin bisa saya perinci satu-persatu (impossible!), beberapa diantaranya berupa kebaikan hati dan doa orang-orang terdekat, saudara dan teman-teman.

 

1. Bapak-Ibu dan keluarga di rumah

2. Mbak Zie dan Mumun, thanks pinjaman laptopnya

3. Novran, thanks udah mau nganterin ke stasiun

4. Himam, thanks pinjeman baju batiknya

5. Samsul Huda, thanks udah ngasih tumpangan tidur n nraktir makan

6. Mak nyong Hakim, mas Hakeeem.. makaaaan!! :D

7. Lionk, thanks dah mau bantu ngambil dokumen ke Kedubes n ngirim ke Malang :)

8. Hanin, suwun wes gelem njalukno stempel nang Jurusan

9. Datun, mbak Awok .. suwun ya

10. Cak Mario, suwun sing wuaaakeh mas .. kapan-kapan impromptu maneh nang Paciran :)

11. Distra, suwun le .. ternyata kosmu cedak Gang Potlot

12. Bu. Umi, terima kasih bu, maaf malah merepotkan ..

13. Flow, suwun wes diterno nang omahe Bu. Umi n golek dasi batik ndek Margo City :)

14. Pak Ajis & istri, pak Nari, wong-wong kabeh sing ndek Pepen; Bu Darti, konco-konco kos KL-66 (bang Gandes, Samsul, Pak Dedik, Angga, Ucok, Amri, Aap, Tomy, dkk); tonggo-tonggo kabeh ndek Cerme; konco-konco SMA (Iwan, Wahyu, Ita, dkk); Titik, Budiman, Mona, Nana, Ainul, Kembar Atik-Anik, Pak Yoga, Bu. Atik, Pak Har, Mbak Nanik; teman-teman Monbusho 2012, dll.

 

Semoga kebaikan dan doanya dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Jika ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, jika ada takdir Tuhan kita ketemu lagi ..

 

Salam,

Shofie

*かぜをひきそう*

 

 

Ketinggalan Pesawat

17 Februari, 2012

Hari ini, tepat dua tahun yang lalu, mestinya saya sudah tiba di rumah. Akan tetapi takdir berkata lain: saya harus rela ngemper di sebuah Bandara, 5333 kilometer dari rumah.

Rangkuman kronologis kejadiannya seperti berikut: :D

  • Selasa, 30 Juni 2009: Alhamdulillah.. dapat email dari National Institute for Physiological Sciences, Okazaki, Jepang. Isinya pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi untuk mengikuti short-term visit di NIPS selama dua minggu :D
  • Minggu, 8 November 2009: Berangkat ke negerinya Doraemon
  • Sabtu, 21 November 2009: Pulang ke negara tercinta :D
  • Jumat, 12 Februari 2010: Balik lagi ke Jepang dalam rangka ikut seleksi Program Ph.D (Gagal mas bro :D )
  • Rabu, 17 Februari 2010: And the story begin..

Rabu, 17 Februari 2010

Lihat jam: 06.30 (waktu Jepang). Gelodak!! langsung ke kamar mandi, cuci muka sama sikat gigi. Ganti pakaian, beres-beres barang, tas, koper, sampah, dll. Emmm.. ada yang ketinggalan gak ya?? Gak ada! langsung turun tangga ke bagian administrasi dormitori kampus, nyerahin kunci kamar, pake sepatu trus buka pintu kaca depan. Sayonaraaaa mina san..!

Mishima Lodge (sisi sebelah kanan, kalau malam sereeeeem :D )

Ternyata teman saya sudah nunggu di depan, katanya sudah setengah jam(an) nunggu. Teman saya ini adalah adek angkatan waktu kuliah dulu. Namanya Dwi Wahyu Indriati, panggilannya Atik, dia studi Ph.D di NIPS sejak Oktober 2008 (kalau gak salah). Tanggal 5 Februari kemarin dia baru saja nikah :D Selamat ya Tik, semoga jadi keluarga sakinah n studinya bisa selesai tepat waktu..

Sambil setengah lari saya dan Atik menuju ke salah satu tempat pemberhentian bus terdekat. Katanya Atik, kalau jalan kaki ke stasiun kelamaan, waktunya gak nutut. Setelah nunggu akhirnya bus datang. Ngeeeeeng.. Ciiiiiit..!! bus tiba di depan stasiun “Higashi Okazaki“. Sambil lari-lari saya ngikutin Atik ke arah loket karcis, lalu naik tangga menuju ruang tunggu kereta. Nah, ada yang unik di sini. Si petugas stasiun (kalau di Indonesia mungkin semacam satpam) selalu mengucapkan “Ohayo gozaimasu” (sambil agak menundukkan kepala) kepada setiap orang yang melewati pintu masuk untuk (berbaris) menunggu kereta. Setelah saya amati, ternyata si bapak ini terus saja mengucapkan Ohayo gozaimasu sejumlah orang yang datang ke stasiun (lha lek wonge kabehe 200, opo gak ngiler iku marine). Keren kan?

Higashi Okazaki (kayaknya ini bagian belakang stasiun, agak lupa) :D

Perjalanan dilanjutkan ke Central Japan International Airport (Centrair), Nagoya. Lama perjalanan dari Higashi Okazaki ke Centrair sekitar 40-45 menit. Di dalam kereta saya ga bisa santai, yang ada dalam pikiran cuma bayangan pesawat Japan Airlines (JAL) yang sudah siap-siap mau take-off. Jadwal penerbangan saya jam 08.45, sementara jam 08.00 saya masih di dalam kereta (baru 10 menit perjalanan, masih ada 30 menit lagi). Akhirnya sampai di bandara, dan perasaan saya makin gak karuan. Sambil lari saya melirik ke arah jam yang tergantung di dinding (08.35). Allahu Akbar! saya berlari makin cepat, menyerobot lalu-lalang orang-orang di sepanjang jalan menuju pintu masuk airport (minggir.. minggir.. barang atos whoiiiii). Kasihan Atik, dia juga ikut lari-lari sambil membawakan sebagian barang bawaan saya (seru kan Tik? hehe).

Lobi Kedatangan & Pusat Layanan Informasi, Centrair

Saya dan Atik masih panik, kebingungan mencari lokasi lobi keberangkatan. Masih terus berlari-lari kesana kemari sambil tengok kanan-kiri (koyok wong ilang), lalu ada mbak cantik (pramugari) yang menghampiri kami sambil menanyakan sesuatu. Begitu si mbak melihat e-ticket yang dipegang Atik, saya bisa melihat dengan jelas respon terkejut di wajahnya. Mbaknya langsung berlari sembari memberikan isyarat ke kami untuk mengikutinya (mlayu maneeeeeh). Tak lama kemudian kami sampai di loket pemeriksaan tiket (check-in counter). Satu lagi mbak cantik (staf JAL) datang menghampiri kami sambil melihat e-ticket yang dipegang Atik, “hikôki mo chotto..”, begitu kata si mbaknya (sambil mengisyarakatkan pake tangan kalau pesawat saya baru saja take-off). Apppaaahh?!! seketika itu saya panik dan cemas tapi tidak sepanik waktu turun dari kereta. Staf JAL yang ada di bagian konter meminta e-ticket saya, dia bilang akan mencoba mencarikan penerbangan yang lain ke Jakarta. Teman saya sempat was-was kalau saya bakal diminta membayar biaya tambahan untuk tiket yang baru. Alhamdulillah aman! Kata mbaknya, saya sudah dibooking-kan kursi kosong untuk penerbangan Tokyo-Jakarta tapi sayangnya jadwal penerbangan ke Jakarta hanya ada satu kali keberangkatan/hari. Horeeeee, saya ga jadi pulang :D

Kesusu budal ae cak, aku gak dienteni :(

Setelah diberi e-ticket baru oleh staf JAL dan dikasih tau bahwa jadwal penerbangan saya diganti keesokan harinya (18 Februari 2010, jam 08.45), saya agak lega. Lalu saya dan Atik berjalan menepi mencari tempat duduk untuk melepas lelah (asli awak rasane koyok digepuki wong sak kampung, pegel campur lemes). Saya bilang ke Atik kalau saya tidur di Airport saja, gak masalah. Dia menawarkan ke saya untuk tidur di apartemen temannya, atau kalau mau bisa mencoba putar balik ke Okazaki nginep di laboratoriumnya sensei. Whattt?! Semalam sebelumnya saya sudah pamit pulang ke sensei dan teman-teman di laboratorium, kan gak lucu kalau tiba-tiba saya datang lagi ke laboratorium bawa koper dan bangkelan sambil tertunduk lesu, “maaf saya ketinggalan pesawat, apa saya bisa tidur di lab malam ini??”  :(

Di Airport saya ditemani Atik sampai jam 3(an) sore: jalan-jalan ke laut, keliling airport, ditraktir makan dan dibelikan Tokyo Banana.. hehe (suwun tik, engko ganti tak traktir godo gedhang). Jam 15.00 Atik balik ke Okazaki .. Saya pun lontang-lantung sendirian di airport, karena merasa masih kecapekan setelah lari-lari tadi, saya tidur di kursi panjang di salah satu sudut ruangan. Tas dan barang-barang bawaan saya titipkan di brankas penitipan (bayar pake koin). Tak terasa sudah malam. Perut lapar. Saya jalan-jalan cari makan, sambil jepret-jepret kanan kiri pake HP tercintah (Sony Ericsson W880i).

Jam 21.00 bandara sudah mulai sepi, lampu di lobi-lobi utama dan ruang tunggu sudah mulai dipadamkan. Saya pindah ke ruangan khusus yang disediakan bagi penumpang yang terpaksa menginap di bandara karena suatu hal (mungkin penundaan jadwal keberangkatan pesawat). Ruangannya tidak terlalu besar, ada kantin kecil dan beberapa kursi panjang untuk tidur. Saya lihat di ruangan sebelah ada beberapa orang lagi cangkruk sambil minum bir, juga segerombolan pramugari dan pilot berjalan melewati ruangan tunggu menuju hotel Centrair. Februari adalah musim dingin, anginya kenceng banget. Saya sampe menggigil kedinginan, padahal kondisi ruangan cukup tertutup dan saya sudah memakai jaket. Pas enak-enak tidur, tiba-tiba saya dibangunkan oleh dua orang petugas keamanan bandara (semacam satpam lagi). Pak satpam ini meminta saya menunjukkan paspor dan visa. Setelah dilihat-lihat, mereka mengembalikan paspor saya dan mengajukan beberapa pertanyaan ‘aneh’ seputar agama (SARA wong iki!). Seingat saya, mereka bertanya apakah saya mengetahui lokasi masjid di Nagoya, apakah saya pernah ke sana, apa yang saya lakukan selama di Okazaki, bagaimana saya beribadah selama di Okazaki, berapa kali saya beribadah (sholat) dalam sehari, bla.. bla.. (minggatooooo..!) :D

Lha kok wes isuk.. jam 05.30 saya menuju brankas penitipan barang untuk mengambil tas dan barang-barang bawaan. Lalu ke toilet cuci muka dan gosok gigi. Fressshhh! Pesawat baru berangkat jam 08.45, jadi masih 2,5 jam lagi menunggu. Saya gunakan 2,5 jam ini untuk melihat-lihat pesawat dari atas balkon bandara sambil jepret-jepret :D

Jam 08.30 saya sudah di ruang tunggu untuk boarding pass dan bersiap-siap meninggalkan Nagoya. Sebenarnya cerita masih berlanjut di Narita, Tokyo, tapi ga penting.. Hehe. Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan 6 jam Tokyo-Jakarta, lalu transit di Jakarta selama 4 jam sebelum berangkat ke Surabaya, akhirnya saya sampai di rumah jam 00.00 (sekitar jam 12 malam). Alhamdulillah..

Catatan:

20 Oktober 2009tiga bulan sebelum kejadian ini (ngemper di bandara)saya mendapatkan email dari sekretarisnya sensei di NIPS, namanya Reiko Kimura. Ia memberitahukan bahwa nanti pada tanggal 8 November 2009, yakni setibanya saya di Centrair, saya diminta menginap di Comfort Hotel Centrair (kamar sudah dipesankan). Saya mengirimkan email balasan ke Ms. Reiko Kimura, isinya menolak secara halus untuk menerima fasilitas tidur di hotel, saya ingin tidur di bandara saja (jika diijinkan oleh pihak NIPS). Keesokan harinya saya mendapat email balasan dari Ms. Reiko Kimura, ia mengatakan bahwa fasilitas yang saya peroleh (menginap di hotel) sudah menjadi protokol (ketentuan) dari NIPS, jadi saya diminta untuk mengerti dan menerimanya. Karena aturannya seperti itu, ya sudah saya terima.

12 Februari 2010 saya balik lagi ke Jepang untuk yang kedua kalinya dalam rangka mengikuti ujian masuk universitas. Tanpa saya duga sebelumnya, ternyata keinginan saya untuk tidur di bandara dulu dikabulkan. Menurut jadwal, tanggal 17 Februari 2010 saya sudah harus pulang ke Indonesia, akan tetapi takdir berkata lain: saya bangun kesiangan, ketinggalan pesawat, akhirnya tidur di bandara  :D

Sambil Menyelam Minum Air (Kolam)

Kemarin siang saya ikut teman bayar tagihan air ke kantor PDAM Kepanjen. Waktu mau balik ke Pakisaji, teman saya nawarin ngajak renang. Tanpa berpikir panjang (sekitar 5-10cm) saya terima tawarannya. “Panas-panas ngene iki renang uenak mak nyooong..”

Nggreng .. nggreng .. ngeeeeeeeng .. ciiiiiitt! sampailah di lokasi ..

JAM: 11(an).00 WIB

Setelah bayar uang sewa 6000 rupiah (belum termasuk asuransi tenggelam) saya langsung menuju TKP. Oh iya, saya juga sempat tanya ke pemiliknya (merangkap jadi kasir), “Apa di sini menyediakan ban untuk latihan renang ya buk?” Jawabnya “TIDAK!”. Wadduhhh.. alamat ngombe banyu iki.. Ya wes lah mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

Di dalam cuma ada 5 orang pengunjung: sepasang suami istri yang diberkahi seorang balita lucu, dan dua orang anak kecil umur 12-13 tahunan. Tempatnya tidak luas-luas amat, hanya ada dua kolam renang: satu untuk anak kecil, kedalaman sekitar 30-40cm (lebih mirip kolam ikan); satu lagi untuk orang dewasa, kedalaman 160cm. Selain menyewakan kolam renang, di sini juga menyediakan penginapan (tidak gratis) plus kantin kecil (sekilas saya lihat ada Indomie).

Okeh, sekarang saatnya nyebur. Berhubung tidak membawa baju ganti, saya renang pake baju dan celana apa adanya. Jlegurrr.. hadeeem.

Saya jalan pelan-pelan sambil mendekat ke arah tepi kolam untuk mencari pegangan. Kedalaman kolam 160cm, sementara tinggi tubuh saya 167cm, jadi masih tersisa 7cm di atas permukaan air. Meski ketingian air masih sebatas dagu saya, tapi itu sudah membuat saya cukup ketakutan dan gemetar. Maklum, saya tidak bisa renang, sama sekali. Tapi, bisa jadi yang membuat saya lebih ketakutan lagi adalah trauma masa kecil: tenggelam di kolam renang. Setau saya trauma masa kecil itu jauh lebih susah dihilangkan ketimbang trauma yang terjadi pada masa dewasa. Trauma masa kecil seringkali menjadi sumber ketakutan (phobia) bagi orang dewasa. Saya sendiri phobia dengan tempat-tempat yang gelap, dalam dan berair (sumur, danau, rawa-rawa, sungai Amazon). Ketakutan ini biasanya muncul dalam mimpi saya: terperosok ke dalam lubang yang dalam, melihat sumur, tercebur ke dalam danau, dllmimpi seringkali menggambarkan emosi-emosi terdalam kita. Saya pernah lihat film judulnya Shutter Island. Dalam film tersebut ada sebuah percakapan menarik antara Dr. Naehring (psikiater senior) dengan Teddy (seorang pasien sakit jiwa, diperankan oleh Leonardo Dicaprio). Si psikiater mengatakan kepada si pasien: “Did you know that the word ‘trauma’ comes from the Greek for ‘wound’?”. Ya, saya tahu pak! “trauma” dalam bahasa Yunani berarti “luka”. Sayang luka semacam ini tidak bisa diobati pakai Betadine atau Hansaplast :D

Dari dulu saya ingin sekali bisa berenang, tapi ya itu, setiap kali mencoba berenang mesti blukuthuk.. blukuthuk.. blukuthuk (ambles). Tapi itu bukan alasan bagi saya untuk tidak mau mencoba lagi. Bukankah Mr. Google telah mengabarkan secara sahih bahwasanya semua bayi terlahir dengan membawa sejumlah insting primitif, salah satunya insting berenang? Saya setuju dg Mr. Google, saya juga berkeyakinan bahwa insting ini pastilah masih tersimpan rapat di tempat asalnya. Yang saya perlukan hanyalah membebaskan si insting dari dalam brankas kunonya: unconscious mind (pikiran bawah sadar). Namun sayang seribu sayang, brankas digembok! Gemboknya pun bukan sembarang gembok (tidak dijual di toko-toko bangunan). Saya membayangkan gembok ini sudah terpasang sejak 22 tahun yang lalu, tepat sesaat setelah saya tenggelam di kolam renang di Sengkaling, Malang. Gembok itu adalah sejenis monster “rasa takut” yang bersumber dari trauma masa kecil saya.

JAM 13(an).00 WIB

Setelah selama hampir dua jam berendam sambil gulung kuming gak karuan di dalam kolam renang, dan beberapa kali menenggak air kolam yang rasanya mirip Bayclin (kalsium hipoklorit), akhirnya saya pun mengalami sebuah kejadian luar biasa. Apa itu (100x)? .. Saya bisa berenang sambil menyelam sejauh 3 meter sodara-sodara!! Sekali lagi, saya bisa berenang sambil menyelam sejauh 3 meter sodara-sodara!! Sungguh saya tak menyangka sebelumnya. Ini adalah sebuah kemajuan yang sangat signifikan bagi saya. Dan karenanya patut disyukuri.

Sejak pertama nyebur ke kolam, saya sudah berpikir bahwa yang paling penting buat saya bukan latihan menggerak-gerakan kaki dan tangan atau menyelam sambil menahan nafas. Yang paling penting adalah MELAWAN rasa TAKUT!! Jika saya tidak melepaskan pegangan tangan saya dari pinggiran kolam dan memberanikan diri berjalan ke arah tengah kolam, saya tahu gemboknya ga bakalan pernah bisa dibuka. Sungguh ini cobaan yang berat buat saya, terlebih rasa takut yang saya coba lawan ini berasal dari kedalaman ribuan meter di bawah permukaan alam sadar saya: bayangan tenggelam, gelap, seolah-olah berada di laut yang dalam, pokoknya ngeri lah. Mungkin terdengar hiperbolis atau alay, tapi memang begitulah yang saya rasakan. Hanya orang-orang yang pernah mengalami kejadian serupa dengan saya yang bisa memahami bagaimana rasanya menceburkan diri ke dalam kolam renang tanpa memegang ban (pelampung).

Puncak sekaligus akhir dari semua ‘penderitaan’ adalah ketika saya memberanikan diri menaiki tangga setinggi 2,5-3 meter dengan papan luncur di depannya (kemiringan sekitar 45-50º). Durung opo-opo jantung rasane tremor.

Saatnya tiba, saya pun mengambil posisi duduk sambil membujurkan kaki lurus ke depan (rasane kudu mlayu muleh ae aku maaaaaaaak). Teman saya sudah menunggu di bawah mengambil posisi ready untuk menolong. Sebelum meluncur saya berwasiat terlebih dahulu kepada dia, “begitu nyebur ke dalam air langsung pegang tanganku, aku takut kalau terlalu lama tenggelam di dalam air”. “Iyo, tenang ae, wes ndang cepet meluncur”, begitu kata teman saya. Haahhhh! Sumpahhh ndredeg poooll.. Akhirnya, sesaat setelah tangan saya lepaskan dari pegangan dan mulai meluncur, rasanya jantung seperti ditarik keluar, mak krenyeeeeng. Dalam hitungan detik saya pun meluncur menuju kolam dengan kecepatan mendekati cahaya. Byuuurrrr.. alhamdulillah sukses menelan air rasa Bayclin.

Setelah peluncuran yang pertama, saya tertantang untuk mengulangi lagi, lagi, dan lagi sampai 5x. Setelah puas maen prosotan, saya mulai berlatih berenang dengan menyelam sambil menggerak-gerakkan kaki dan tangan. Awalnya terasa agak berat, tetapi setelah saya ulangi beberapa kali akhirnya berhasil. Saya bisa berenang sambil menyelam sejauh 3 meter! Yes! Gembok sudah bisa dibuka! Kapan-kapan renang lagi ahhh ..

“Kalau ada sumur di ladang boleh saya menumpang mandi, kalau ada umur panjang saya pengen renang lagi” :D

Kesimpulan:

1. Trauma = luka, insya Allah bisa disembuhkan asal mau berusaha.

2. Keberanian = nekat + pasrah.

3. Berenang = insting primitif, bisa dilatih.

4. Berenang = menyenangkan di awal, melelahkan di akhir.

Tikus Pemberani

 And old rat is a brave rat(pepatah Perancis)

Kejadiannya kemarin. Seperti biasa, antara jam 7-8 malam saya turun ke lantai bawah untuk menyalakan lampu ruangan dan  teras depan. Sewaktu menuruni tangga saya melihat seekor tikus remaja di lantai bawah (saya ga tau umurnya, ga sempat tanya). Barangkali si tikus mau naik ke lantai atas (tempat saya) lewat tangga tapi tidak jadi karena melihat saya mau turun. Terakhir yang saya ingat, dia kelihatan bingung: berlari-lari kecil (maklum kakinya juga kecil) mencari jalan keluar. Lampu ruangan bawah belum menyala, jadi kondisinya sedang gelap. Nah, saya lihat si tikus akhirnya masuk ke kamar mandi yang (bukan kebetulan) pintunya sedang terbuka lebar. Ya sudah lah, sambil lalu saya nyalakan lampu seperti biasa.

Selang beberapa menit kemudian saya mendengar ada suara seperti orang mandi. Biasanya jam 7 malam orang-orang pabrik memang sering numpang mandi di kamar mandi bawah, tapi kok pintunya kebuka ya?? Sambil agak deg-degan (takut kalau si tikus tiba-tiba mencolot keluar) saya mengintip pelan-pelan ke dalam kamar mandi, tapi saya tidak melihat ada orang di dalam (catatan: lampu kamar mandi rusak, jadi gelap gulita). Seketika itu saya dapat firasat buruk: jangan-jangan ini suara si tikus kecebur bak mandi. Tidak mau ambil pusing, saya tinggal naik ke atas. Ternyata firasat saya benar. Pagi tadi saya masuk kamar mandi bawah (sudah lupa dengan firasat semalam) tapi langsung keluar lagi secepat kilat dengan perasaan deg-degan campur ngeri. Saya lihat di bagian dasar bak kamar mandi ada tikus mati. Innalillahi wa inna ilahirrajiuun. Setiap yang bernyawa pasti akan mati.

…………………………………..

Februari 2012, artinya sudah hampir 10 bulan saya tinggal di tempat saya yang sekarang. Tempat tinggal saya ini berupa bangunan tiga lantai mirip ruko, lokasinya di kawasan selatan kota Malang, tepatnya di sekitar perbatasan Pakisaji dan Kepanjen. Persis di depan tempat tinggal saya ada pemakaman umum full pohon Kamboja (konon kata orang-orang sekitar sini, kuburan ini dulunya super angker). Di sebelah kanan dan kiri ada ladang tebu dan sawah, sementara di belakang ada rel kereta api dengan latar belakang areal persawahan. Pertama kali pindah, ruangan masih carut-marut: di lantai bawah ada almari dan bupet bekas, tumpukan kayu, dipan kasur, dan kardus-kardus bekas (koyok kapal ngguling). Singkat cerita, ruangan dan kamar di lantai dua saya bersihkan (siap digunakan); sementara bupet, almari dan tumpukan kayu dipan di lantai bawah saya biarkan berantakan. Oh iya, saya tinggal di sini dengan seorang teman (dulu kuliah satu angkatan). Lha terus, opo hubungane karo tikus cak?!! .. gak usah ngotot ngunu cak! nyantai ae poo ..

Jadi begini ceritanya. Sejak bulan pertama sampai sebelum barang-barang di lantai bawah (bupet, almari, tumpukan kayu) dipindahkan ke ruang lain, hampir setiap malam saya dan teman saya selalu terlibat aksi baku hantam dengan geng tikus. Pada awalnya kami biasa-biasa saja (sabar), tapi lama-kelamaan mereka semakin kurang ajar, bahkan anarkis. Ya sudah, apa mau dikata, “Si vis pacem, para bellum”—Jika mendambakan perdamaian, maka bersiap-siaplahlah menghadapi perang“ (wikipedia.org). Akhirnya saya dan teman saya menyatakan “war!” dengan para tikus tak tau adat itu! Awalnya kami hanya berusaha mencegah agar si tikus tidak bisa masuk menembus benteng pertahanan di lantai dua; caranya dengan meletakkan jirigen, ember, panci, selang dan perkakas dapur lainnya persis di depan kaki tangga paling atas yang berbatasan dengan ruang masuk ke kamar saya. Foto di atas kurang relevanmaklum adanya cuma initapi tolong fokus saja di bagian belakang (itu adalah tangga yang menuju ke lantai bawah, sementara yang sedang saya aduk-aduk itu adalah fresh celethong alias kotoran sapi, mau??). Bagaimanapun, hasilnya mengecewakan. Para tikus tetap bisa melewati tanggul jirigen dan ember dengan mudah. Saya sendiri tidak tau bagaimana mereka bisa lolos, yang jelas tiap tengah malam saya bisa mendengar sorak-sorai suara tikus beserta sanak familinya saling berkejaran bahagia. Damn!!!.

Lalu saya dan teman saya berpikir bagaimana kalau beli racun atau gencet (jepretan) tikus?? Tampaknya saya dan teman saya sudah tahu bahwa ide untuk membeli racun dan jepretan tikus itu hanya sekedar retorika saja: kami berdua tidak berani terlalu dekat dengan hewan rodentia yanng satu ini, apalagi memegangnya. Lagipula, membunuh tikus tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama maupun UUD ’45 termasuk kategori tindak kejahatan, apalagi membunuhnya pake jepretan (ngeeekk!! leher tergencet lidah terjulur .. Ooohh .. no). Jadi  sejak awal kami tidak pernah serius mau membeli racun dan jepretan tikus. Waktu terus berlalu, hampir setiap malam saya dan teman saya terlibat aksi kejar-kejaran dengan tikus. Saya bawa senjata sapu, teman saya bawa raket; besoknya saya bawa selang, teman saya bawa sandal; besoknya lagi saya bawa sapu, teman saya bawa gantungan baju/hanger (ate nggepuk tikus opo njemur kelambi whoiii..!). Begitulah yang terjadi setiap malam, menjengkelkan tapi juga mendebarkan (seru). Kali ini kami sudah mulai lelah dan bosan. Setiap hari musti kejar-kejaran sama tikus, dibuat deg-degan, bangun tengah malam sambil mengendap-endap  bawa raket atau sapu. Lalu .. duaaaarr!! 2,3,5 ekor tikus loncat keluar dari balik kelambu jendela (setaaaaaaaan!! otomatis nyeplos). Parahnya lagi, ‘geng motor‘ yang satu ini sering bikin barang-barang porak-poranda; ngereketi kardus, kabel, sarung, sampek CD juga diembat (serius!). Arrghrghrghr!!

Saya berpikir bahwa tikus ini adalah hewan yang mbethik (bandel) dan pemberani. Meski lampu ruangan sudah dinyalakan dan berkali-kali diberi peringatan (diuber nganggo sapu sampek gulung kuming), tapi mereka seakan-akan tak peduli sama sekali: yang penting gerilya malam, syukur-syukur dapat makanan. Jika melihat kasus yang saya alami ini, semboyan “si vis pacem, para bellum” agaknya kurang tepat. Kalau sudah begini lalu bagaimana? Gampang saja. Saya dan teman saya, dengan dibantu seorang pekerja pabrik, memindahkan tumpukan-tumpukan kayu bekas di lantai bawah ke ruangan lain. Bupet dan almari bekas saya bersihkan dan saya tata ulang. Lantai ruangan saya sapu, dipel bersih pake SOS pembersih lantai; lampu ruangan yang sebelumnya rusak saya ganti dengan lampu baru. Taraaaaaa .. Alhamdulillah sudah sekitar 5 bulan terakhir ini saya tidak lagi lari-lari tengah malam bawa sapu. Sekali dua kali kadang masih melihat tikus lari-lari di ruang bawah, tapi saya biarkan, kalau mau coba-coba naik ke lantai atas ya silahkan saja (resiko ditanggung sendiri).

Dari kejadian ini pelajaran yang bisa saya ambil adalah:

Kalau mau mengusir tikus jangan langsung menggunakan cara-cara militeristik atau kekerasan, apalagi pakai cara-cara ekstrim (misal: bom bunuh diri). Cara paling gampang adalah dengan mengetahui apa yang tidak disukai tikus: nyala lampu; ruangan yang terang, bersih dan terbuka; musuh-musuh tikus (kucing, ular sawah, burung hantu, Tom, Abraham Samad). Dua yang terakhir itu khusus untuk tikus jadi-jadian .. Hehe

P.S (pesan sponsor):

Mengingat kemampuan dan strategi invasi tikus sudah sangat modern, sementara jumlah populasi musuh alaminya (ular sawah, burung hantu, apalagi burung elang) telah menurun secara drastis, maka situasi semacam ini bisa menjadi kesempatan yang baik bagi para sesepuh, pucuk pimpinan dan ahli militer tikus untuk terus berdiskusi sembari mengembangkan taktik invasi yang tidak hanya canggih, tapi juga agresif. Mereka kini tidak lagi gentar menghadapi kucing rumah, karena mereka tahu bahwa kucing rumah jaman sekarang lebih suka makan roti atau indomie goreng ketimbang makan tikus. Di sisi lain, mereka juga diuntungkan dengan maraknya aktivitas alih fungsi lahan pertanian, lahan terbuka, atau Daerah Aliran Sungai (DAS)yang merupakan habitat bagi musuh alami tikusmenjadi pusat-pusat industri (pabrik), perbelanjaan (mall), ruko, perumahan, dll.

♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥.♥


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.