Menuntut Ilmu via Jembatan Maut

Sebulan yang lalu dunia maya sempat digegerkan dengan beredarnya foto jembatan yang hampir runtuh (tumben bukan foto porno .. hehe) di Sungai Ciberang, Lebak, Banten (foto bisa di lihat di sini). Seperti biasa, para facebookers pun juga ikut-ikutan ngerumpi, saya lihat beberapa teman fb saling sharing foto-foto tersebut. Setelah saya “klik” lalu muncullah foto-foto jembatan nyaris runtuh itu lengkap dengan deretan anak-anak sekolah tengah bergelayutan di atasnya (tersenyum kecil, itulah respon pertama parasimpatik saya).

Setelah saya amati dengan hikmat, saya jadi temannya tempe (baca: tahu) ternyata yang bikin geger jagat mayapada bukan konten fotonya tapi komen fotonya: sekitar 90% berisi cercaan/ hinaan/ umpatan/ kutukan maut yang dialamatkan ke DPR (semoga bukan alamat palsunya Ayu Ting Ting); sisanya berupa do’a dan pujia-pujian kepada Tuhan, dukungan dan semangat untuk anak-anak yang ada di foto, serta ucapan duka-cita. Saya sendiri tidak tahu bagaimana sampai bisa muncul ide untuk mengaitkan foto tsb dengan DPR? barangkali masyarakat kita sudah sedemikian getem-getem sama DPR, jadi ya sikat ae wes ga kesuwen!! .. Hehe

Wes lah ga urus DPR, di sini saya mau melihat sisi lain foto jembatan maut yang sempat meresahkan warga mayapada beberapa waktu lalu, here we go

Dulu waktu sekolah madrasah guru saya pernah bilang bahwa Nabi saw pernah bersabda:

(tuntulah ilmu dari buaian hingga liang lahat) أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ

Jika tidak berhat-hati bukan tidak mungkin hadist tersebut bakal menjadi kenyataan, si anak bisa saja terjatuh ke sungai (tidak jadi ke sekolah, tapi ke liang lahat). Anak kecil memang memiliki jiwa pemberani, tak peduli bahaya atau tidak tetap mereka terjang sekehendak hati. Tugas orang tua lah membimbing dan mengawasi anak-anaknya agar si anak tidak bertindak sembrono, seperti bapak yang pakai topi itu. Yang lain mungkin sudah terbiasa meniti jembatan rusak, menyebrang sungai atau memanjat pohon, jadi tidak takut menyebrang sendirian. Yang pasti semua pertolongan (keselamatan) berasal dari Allah swt.

P.S: saya pernah baca kalau sanad hadist di atas tidak ditemukan alias dhaif; ada juga yang berpendapat bahwa itu bukan hadist melainkan pepatah Arab.

Yang paling saya suka dari foto di atas adalah keberanian dan semangat belajar anak-anak ini, meski posisi jembatan tidak lazim (kemiringan nyaris 90º=mengundang malaikat maut) mereka tetap memutuskan untuk pergi ke sekolah bareng-bareng menggunakan jembatan ‘shiratal mustaqim‘ ini. Seakan-akan (atau memang demikian adanya) mereka sedang mempraktikan sebuah keyakinan: “Jika Allah telah menetapkan aku selamat sampai tujuan, maka tak ada yang mampu menolaknya”. Di sisi lain, menuntut ilmu mempunyai kedudukan mulia dalam pandangan Islam. Rasul pernah bersabda:

Dari Abi Darda dia berkata :”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda”: “Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan sesungguhnya para malaikat  membentangkan sayapnya karena ridla (rela) terhadap orang yang mencari ilmu …”

(H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah)

Kalaupun sampai terjadi ada yang terjatuh ke sungai dan tak terselamatkan, insyaAllah syahid. Setau saya, Islam menilai bahwa orang yang meninggal di dalam perjalanan menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang berjihad fi sabillillah.

Ada pepatah lama yang sangat terkenal (tapi jarang dipakai) di negeri kita:

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh!”

Saya bisa melihat bahwa anak-anak ini kompak (bersatu) menyebrangi jembatan menuju sekolahnya, buktinya mereka berbaris rapat (anyway salut sama adik yang pake sweater hijau muda, sik kober ndelok menisor ae! iku jeru heh!). Meski di sekolah mungkin mereka masih sering berkelahi dan olok-olokan (biasalah anak kecil hobinya berantem kan), tapi itu tidak mereka lakukan saat meniti jembatan. Seandaianya ada yang berkelahi (misal: adu jotos, menarik tas atau jilbab temannya) pasti akan terbukti kebenaran pepatah di atas: “Bersatu kita teguh, berkelahi kita kejegur”.

Barangkali ada yang bertanya: “Bagaimana bisa anak kecil perempuan dibiarkan nyebrang sendirian, orang tuanya kemana yaaaa..?”. Saya juga ga tau, mungkin orang tuanya sudah nyebrang duluan, nyangkul di sawah, lagi masak di rumah, atau bisa jadi orang tuanya melihat dari kejauhan sambil berdoa. Yang jelas anak ini hebat betul, tak kenal takut ( mari kita berikan applaus yang meriah). Mungkin benar dugaan saya, si adik yang satu ini (sweater ijo) istimewa: kelihatannya dia sudah menguasai ilmu meringankan tubuhnya si Wong Fei Hung, buktinya dia tampak melenggang bebas ringan tanpa beban. Kadang saya berpikir bahwa sebagai manusia dewasa (dari segi umur) kita mulai kehilangan satu hal berharga dari masa kecil kita: JIWA PEMBERANI.

Saya masih ingat dulu sepulang sekolah (SD) sering “ngeril” (berjalan menyusuri rel kereta api) bersama beberapa orang teman. Berjalan dari stasiun ke arah timur sejauh sekitar 4-5Km, melewati sawah-sawah dan tambak ikan, tujuannya adalah melewati sebuah jembatan gantung yang dibawahnya ada sungai cukup besar, semacam uji nyali gitu lah. Saya termasuk yang jarang menerima tantangan (seingat saya hanya beberapa kali nyebrang), takut ada kereta lewat, jadi lebih memilih duduk leyeh-leyeh di bawah jembatan (kalau ada kereta lewat di atasnya, kuping disumbat sama jari biar ga budeg). Foto di atas sangat mirip dengan jembatan yang dulu sering saya kunjungi dengan teman-teman waktu masih SD, cuma bedanya tidak ada kayu penutup di bagian tengah rel.

Adek manis lihat sini ya .. 1, 2, 3 .. ceprett!! masio darurat tapi sik sadar kamera .. Hehe

Saya cukupkan sampai di sini saja. Semoga semua anak-anak ini kelak menjadi orang-orang yang berilmu, mempunyai kepribadian yang saleh/salihah, dan bisa mengharumkan nama bangsa. Amiin ..

Shofie

The Smiling Chickpea

The Smiling Chickpea, kacang polong yang tersenyum (^_^).

Saya pernah membaca sebuah tulisan karya Annemarie Schimmel (sarjana Muslim  kenamaan asal Jerman), dimana ia menuturkan dengan sangat menawan  kisah tentang kacang polong (chickpea) yang merupakan salah satu Bab dalam Matsnawi karya Rumi.

Inti ceritanya begini: suatu hari kacang polong dan teman-temannya (dari klan sayur-sayuran) sedang direbus dalam air mendidih untuk dimasak. Diceritakan bahwa kacang polong dan kawan-kawannya mengeluh kepanasan sambil meloncat-loncat mencoba keluar dari periuk—namun apa daya, ukuran periuk cukup besar untuk si kecil chickpea bisa lolos dari kehendak Sang Juru Masak. Namun, si Ibu (nickname dari Sang Juru Masak) menjelaskan dengan sabar dan penuh kasih kepada kacang polong dkk bahwa mereka harus menjalani ujian ini (direbus dalam periuk) untuk beberapa saat. Karena, setelah tumbuh berbahagia bermandikan ‘hujan dan sinar matahari  kemurah-hatian’ Tuhan, kini mereka harus merasakan pula ‘api ujian’ dari Nya. Begitu sudah benar-benar matang dan terasa lunak (lembut), berarti mereka sudah siap disajikan sebagai hidangan yang lezat bagi manusia, dan dengan demikian bisa mencapai kedudukan yang lebih tinggi pada tangga makhluk.

Kisah chickpea yang lucu ini menurut saya masih dan akan selalu relevan untuk dijadikan sebagai perumpamaan (metafor) maupun pengingat (reminder) atas semua kejadian yang telah, sedang dan akan kita alami di kemudian hari, terutama kejadian-kejadian yang sifatnya tidak mengenakkan (ujian). Kalau dipiki-pikir rasanya 1/2 tidak percaya juga bahwa ternyata kita bisa bertahan sampai sejauh ini. Lha gimana setengah ga percaya, bahkan sebelum menjadi bayi pun kita sudah harus ‘berjuang’ mati-matian, bertanding dengan jutaan bahkan miliaran saudara-saudara kita sendiri (baca: sperma) demi memperebutkan sebuah kedudukan terhormat: “manusia”. Tak cukup sampai di situ, untuk menjadi manusia dewasa si bayi harus melewati serangkaian proses dan ujian: penglihatan yang masih buram, tidak diijinkan berbicara dengan lancar dan jelas (hanya bisa menangis), lapar, demam, berjalan dengan merangkak, jatuh dari ayunan, dan harus basah karena kencing sendiri (ngompol). Berikutnya ujian lebih berat lagi: si anak diharuskan menghafal pelajaran sekolah, menulis, belajar berhitung, jatuh dari sepeda, berkelahi, kaki kena paku, dihukum di depan kelas, dijewer emak; dan jika bapaknya adalah seorang peternak ayam, biasanya si anak harus ikut membersihkan kandang ayam (resikonya tai ayam nyangkut di kaki). Semakin bertambah umur, semakin bertambah pula ragam ujian. Maka kali ini ujian lebih keras dan lebih aneh dari sebelum-sebelumnya: tidak hanya tugas sekolah dan kuliah, tapi juga harus sakit hati karena putus cinta (suit suit!); jauh dari orang tua karena harus menuntut ilmu di kota orang, mencuci baju sendiri, dompet hilang, terpaksa jual koran atau ngamen untuk tambahan bayar SPP, berurusan dengan polisi (kena tilang, nabrak orang), opname karena sakit, bingung cari uang buat bayar kos (udah nunggak setahun), dimarahi dosen habis-habisan, stress mikir skripsi/ kerjaan, belum lagi ditambah acara-acara tv super horor: berita kriminal, korupsi, bom bunuh diri, perang, banjir; sinetron & infotaiment alay; plus ratusan iklan pemicu hipertensi, obesitas, dan psikotik. Oh oh oh ..

Saat ini usia saya 28 tahun, dan bagi saya bisa bertahan selama kurang lebih 10.000 hari tanpa pernah terpikir menyesali hidup (malah justru memilih untuk menyambut hidup) adalah sesuatu banget .. Hehe. Saya percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian (cobaan) melebihi kadar kemampuan hambanya: inilah alasan mengapa kita bisa bertahan sampai sejauh ini. Jika kita menerawang jauh ke belakang sampai pada satu titik waktu (moment) saat kita masih bayi, sementara pada saat yang bersamaan kita mendapati bahwa si bayi tersebut kini telah tumbuh besar menjadi seorang laki-laki/ perempuan dewasa, maka hal ini sudah cukup menjadi bukti nyata bahwa (pertolongan) Tuhan itu sesungguhnya amat dekat—saking dekatnya sampai-sampai tak terlihat oleh kita. Tanpa pertolongan semacam itu (yang amat dekat, seringkali tersembunyi) barangkali sebagai manusia kita sudah gulung tikar (digulung pakai tikar) sejak dulu. Dalam tiap ujian yang diberikan Tuhan kepada kita, ada maksud-maksud tertentu yang hendak Ia terangkan. Setidaknya maksud tersebut terkait dengan dua hal, yaitu: Pertama, ujian sebagai sarana belajar dan pendewasaan bagi jiwa manusia. Kedua, dengan memberikan ujian kepada hamba-hamba Nya, Tuhan hendak memperlihatkan kepada kita akan Kebesaran serta sifat Pengasih Nya. Dengan kata lain, manusia perlu diuji agar mereka mengerti bahwa Tuhan Maha Penolong. Seperti yang dituturkan Rumi: seorang tukang roti tidak suka melihat orang lapar, tetapi dia menghendaki orang yang membutuhkan roti supaya dia dapat menunjukkan kecakapannya memenuhi kebutuhan orang akan roti.

Membaca kisah chickpea, kita bisa melihat bahwa dunia dan kehidupan ini—dimana kita berada di dalamnya—seperti periuk besar yang disediakan oleh Tuhan untuk ‘memasak’ jiwa-jiwa manusia agar menjadi matang dan lembut. Dalam bahasa kaum sufi, ujian (masalah) ibarat gula dan garam yang diperlukan oleh jiwa agar ia menjadi manisan seperti kembang gula, atau asinan yang gurih. Ingat! ini hanya metafor, jadi jangan mengira dengan banyak makan gula dan garam bisa membuat jiwa menjadi lebih manis dan gurih, yang ada malah kena komplikasi diabetes dan hipertensi.

Sampailah saya di penghujung pembuka, blog ini saya beri nama “the-smiling-chickpea” dengan harapan agar saya dan teman-teman pembaca dapat mengambil manfaat dari sekelumit kisah chickpea di atas. Di akhir siklus hidupnya chickpea dan kawan-kawannya tersenyum bahagia. Chickpea menyadari bahwa apa-apa yang telah ia alami—sejak berada di tanah (biji, bibit), lalu tumbuh bermandikan hujan dan sinar mentari, sampai direbus dalam periuk dan dimakan oleh manusia—semuanya mempunyai maksud-maksud mulia yang bersumber dari Cinta Ilahi. Nah, Jika suatu hari ada diantara teman-teman melihat kacang polong (entah di supermarket, di pasar, di meja atau di dapur) maka ingatlah blog saya ini. (^_^)

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.