Ba’da Kabut Asap 2015

Ba’da Kabut Asap 2015

OKTOBER 2015, setahun setelah Jokowi dilantik jadi presiden terpilih pada Pemilu 2014, Sumatra dan Kalimantan diselimuti kabut asap terparah sepanjang sejarah. World Bank melaporkan dalam studi analisis ekonominya bahwa dalam kurun waktu Juni – Oktober 2015 tercatat sbb:

(1) Sekitar 2.6 juta hektar lahan terbakar atau setara 4.5 kali luas Pulau Bali; meliputi hutan konsesi, perkebunan sawit, hutan alam, hutan gambut, dll. Sumatera Selatan menempati urutan pertama untuk luas lahan yang terbakar yaitu 600 ribu hektar (23%), menyusul Kalimantan Tengah & Timur, masing-masing seluas 430 ribu hektar (16%) dan 388 ribu hektar (15%).

(2) Total kerugian mencapai USD 16 miliar (220 triliun) atau setara dua kali biaya rekonstruksi Aceh pasca Tsunami 2004; kerugian terbesar berasal dari sektor pertanian (tanaman perkebunan & pangan) yaitu USD 4.8M (30%) dan sektor lingkungan (biodiversity loss dan emisi karbon) sebesar USD 4.2M (26%), menyusul sektor kehutanan, manufaktur dan pertambangan.

(3) Emisi karbon (GHG) mencapai 1,800 juta metric ton equivalen CO2 (mtCO2e) atau sekitar 15 juta mtCO2e per-hari, mengungguli emisi karbon dari gabungan semua negara Uni Eropa (9 juta mtCO2e per-hari). Angka ini menjadikan target pengurangan emisi karbon nasional sebesar 29% pd tahun 2030 nyaris mustahil dicapai.

Tiga tahun telah berlalu pasca kabut asap 2015 dan hingga hari ini tidak lagi terdengar berita kabut asap serupa yang pada tahun-tahun sebelumnya selalu terjadi—sebenarnya tahun ini masih ditemukan beberapa titik api di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan tetapi bisa dikendalikan. Warga Sumatra dan Kalimantan atau siapa saja yang pernah merasakan hidup berbulan-bulan dalam cuaca gelap sambil menghirup asap dari kayu hutan dan gambut yang terbakar, termasuk saya sendiri, wajib bersyukur karena bisa bernafas lega dalam tiga tahun terakhir. Kita juga mesti mengapresiasi ikhtiar pemerintah (Jokowi) beserta lembaga-lembaga terkait dalam mencegah dan mengendalikan potensi kebakaran hutan baik secara langsung maupun tidak: moratorium sawit, penegakan hukum bagi pelaku pembakaran hutan, serta pemulihan lahan gambut. Namun, bukan berarti masalah selesai sampai disini. Penegakan hukum dan moratorium sawit mungkin bisa memenjarakan pelaku pembakaran hutan serta menekan sementara laju konversi hutan, tetapi masalah sebenarnya adalah bahwa fungsi ekologis hutan tropis dan gambut (yang terlanjur terbakar) tidak tergantikan: pemasok oksigen, purifikasi udara dan air, manajemen air tanah serta siklus hara dan mineral tanah, regulator iklim mikro, carbon sequestration, serta habitat bagi ribuan spesies flora & fauna. Industri sawit memang menjadi sumber devisa penting bagi negara sekaligus penggerak perekonomian lokal, tetapi mengizinkan jutaan hektar hutan tropis dibabat terus menerus untuk produksi minyak sawit maupun kertas adalah seperti orang dungu di tengah padang pasir yang menukarkan jerigen penuh air miliknya demi beberapa keping uang.

Saat ini Indonesia menjadi penghasil minyak sawit (CPO) terbesar dunia dengan total luas kebun sawit mencapai 14 juta hektar (lebih luas dari Pulau Jawa: 12,8 juta hektar) dan top 10 produsen pulp & paper dunia. Konsekuensi dari ‘pencapaian’ ini adalah Indonesia juga menjadi donatur penting emisi GHG global terutama dari kegiatan deforestasi—sekitar 2 juta hektar hutan hilang dalam kurun waktu 2014 – 2017. Tak ada asap jika tak ada api. Kebakaran hutan dan kabut asap di negara ini adalah “man made disaster”: hutan sengaja dibakar dengan satu motivasi, yaitu melipat gandakan angka produksi sawit, tanaman kertas, atau komoditas sejenisnya. Terkait kebakaran hutan tahunan di Indonesia, ada satu kerumitan di dalam tubuh pemerintah sendiri yang harus diurai ujung pangkalnya, yaitu paradigma dan sikap politik klasik pemerintah atas hutan: memposisikan hutan sbg subordinat pertumbuhan ekonomi—tidak masalah hutan ‘disewakan’ untuk dirombak jadi kebun sawit atau akasia asal bisa mendorong pertumbuhan ekonomi (GDP naik).

Membangun jalan tol dan infrastruktur sah-sah saja, itu perkara mudah bagi pemerintah karena memang pada dasarnya bukan agenda yang terlarang, terlebih lagi tujuannya adalah pemerataan pembangunan dan percepatan pertumbuhan ekonomi (meskipun dari sudut pandang lain bisa jadi tidak sah atau bahkan terlarang). Di sisi lain, usaha pemerintah dalam menjaga dan mengelola hutan dari dulu selalu bermasalah (dilematis) dan tak pernah tuntas karena berbenturan dengan paradigma ekonomi-politik yang dianutnya sendiri: “hutan adalah komoditas”. Akibatnya adalah, ekspor kayu besar-besaran, sewa-menyewa hutan, dan kebakaran hutan. Saya berharap pemerintah periode berikutnya, terlebih jika Jokowi yang terpilih kembali di pemilu 2019, mau melakukan dekonstruksi terhadap sistem operasi politik-ekonomi atas SDA, khususnya hutan, dan bisa memberikan konstruksi baru dalam manajemen hutan Indonesia. Jika pemerintah cukup berambisi dalam membangun jalan tol ribuan kilometer, bandara, dan pelabuhan baru, maka menjadi tidak logis (dan harus dipertanyakan) jika pemerintah kurang berambisi dalam melindungi dan mengelola hutan, mengingat bahwa eksistensi hutan tropis dan gambut tidak pernah bisa dinilai oleh GDP (tinggi) dan fungsinya tak akan bisa digantikan oleh kemegahan infrastruktur.

Seseorang pernah berkata kepada saya “krisis lingkungan itu nyata di depan mata, tetapi di pikiran manusia ia menjadi sangat abstrak”.

(Pekanbaru, 28 Oktober 2018)

Ilusi identitas dan ujaran kebencian: nalar berukhuwah kita (?)

Ilusi identitas dan ujaran kebencian: nalar berukhuwah kita (?)

Cara manusia memandang dirinya sendiri dan manusia lainnya merupakan elemen dasar yang membentuk tata nilai dan struktur sosial suatu masyarakat. Cara pandang ini sekaligus menjadi ruang lingkup bagi gerak “nalar” yang memungkinkan manusia memperoleh pemahaman atas realita di sekitarnya. Salah satu fungsi dasar nalar adalah melakukan identifikasi dan klasifikasi. Seekor singa mengidentifikasi mangsanya dan mempelajari cara berburu melalui insting dan memori, tidak dengan nalar—cara singa berburu rusa dari jaman buyutnya Fir’aun sampai sekarang tidak banyak berubah: mengendap-endap, membuka mata lebar-lebar sambil mengatur arah gerak kaki dan posisi tubuhnya; belum pernah ada dalam catatan sejarah dimana singa berburu rusa menggunakan tombak atau panah, kecuali Si-singa-mangaraja dari tanah Toba. Manusia, meskipun dari sudut pandang taksonomi masih berkerabat dekat dengan monyet, hanya sedikit mengandalkan insting dalam melakukan identifikasi dan klasifikasi sosial. Setelah melalui evolusi ratusan ribu tahun, manusia modern (Homo sapiens) berhasil mengembangkan suatu metode identifikasi sosial yang jauh lebih kompleks, bahkan cenderung ruwet, dibanding anggota mamalia lainnya. Saat ini kita melakukan identifikasi dan klasifikasi kepada diri kita sendiri dan orang lain melalui  bermacam-macam cara: nama, agama, etnis dan warna kulit, kewarganegaraan, gender dan orientasi seksual, kelas sosial, profesi, ideologi dan pilihan politik, selera seni dan kuliner, hobi, dll.

Si “A” orang Indonesia, bapaknya Jawa ibunya keturunan Cina, Islam, teknisi IT di sebuah bank swasta, penggemar karya-karya Dan Brown, penikmat J.S Bach dan gending Jawa, alumni Gontor, pendukung capres incumbent, hobi melukis, dll. Anggaplah si “A” ini teman atau tetangga sebelah rumah si “B”. Kemudian si “B” berkunjung ke rumah si “A”: di rak bukunya terlihat buku tebal Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dan sebuah buku Yasiin dan Tahlil kecil, sementara di salah satu dinding ruang tamu terpasang foto K.H Hasyim Asy’ari. Si “B” lantas membatin ”Oo.. orang NU toh.. Islam Nusantara”—si “B” telah melakukan identifikasi kepada si “A”. Di lain kesempatan, si “B” melihat postingan si “A” di sosmed yang isinya mendukung capres incumbent untuk maju pilpres tahun depan. Si “B” pun membatin lagi ”Oo.. cebongers juga toh”—si “B” kembali melakukan identifikasi. Beberapa hari kemudian, secara tidak sengaja si “B” melihat si “A” sedang mengikuti kajian keagamaan di masjid yang saat itu pembicaranya adalah seorang ustad dengan jenggot lebat dan dahi agak kehitaman. Kali ini si “B” membatin agak bingung ”Ngapain orang NU dengar ceramah ustad Wahabi?! lagian dia kan cebongers!”—lagi-lagi si “B” melakukan identifikasi. Sampai di sini mulai terlihat ada masalah, yakni adanya asosiasi negatif antara NU dengan Wahabi dan cebongers dengan Wahabi, dimana masing-masing identitas diposisikan berseberangan secara kaku dan linier: kalau NU pasti bukan Wahabi, begitu juga sebaliknya, maka tidak seharusnya orang NU mendengarkan kajian ustad Wahabi; cebongers itu anti Wahabi, jadi tidak semestinya mereka mengikuti kajian ustad Wahabi. Selain itu, ada pengklasifikasian, yaitu siapapun yang berjenggot lebat dan berdahi agak kehitaman adalah penganut Wahabisme—dan Wahabi itu “pasti” buruk, dari dulu sampai sekarang, kapanpun dan dimanapun!. Dari cerita si “A” dan si “B” itu, pertanyaan yang perlu dijawab adalah “dengan identitas yang mana si “B” semestinya melihat si “A” dan dengan identitas yang mana pula si “A” semestinya melihat dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya, termasuk si “B”?”, “Apakah akan memberikan hasil yang berbeda ketika si “B” cenderung melihat si “A” lebih sebagai teknisi IT dan pelukis amatir ketimbang si “A” sebagai pendukung capres incumbent dan penganut Islam Nusantara?” Jawabannya bisa iya atau tidak, tergantung bagaimana si A melihat dan bersikap kepada si “B”, juga tergantung kapan dan dimana si “B” dan si “A” berinteraksi—ruwet?

            Nyatanya, kita sering melakukan identifikasi dan klasifikasi (seperti kasus si “A” dan si “B” di atas) tidak hanya saat berkenalan dengan orang baru saja, kita juga melakukannya kepada orang-orang yang sudah kita kenal lama, bahkan sebagian dari kita melakukannya secara streaming hampir setiap hari di sosmed—seandainya dibuat buku, mungkin setiap orang akan punya buku babon taksonomi setara “Systema Naturae”-nya Carolus Linnaeus: “Sistem Klasifikasi Manusia, Versiku Dewe!”. Lalu, mengapa manusia melakukan identifikasi? Bisa dijawab dengan banyak cara, tetapi secara psikologis kita perlu tahu identitas seseorang minimal untuk dua alasan: 1. Menghindari kebingungan (mendapatkan kepastian) dan 2. Klasifikasi (digunakan sebagai dasar dalam menentukan sikap). Alasan pertama sangat penting karena mencegah terjadinya kekacauan. Bisa dibayangkan apa jadinya jika dalam satu kelas semua muridnya tidak punya nama (tidak mau menyebutkan namanya) atau semua namanya sama? Sido gurune mulih gak katokan!. Alasan kedua sama pentingnya, tapi yang ini rawan mengalami distorsi maupun penyempitan makna serta disalah gunakan. Di masa seperti sekarang ketika banyak manusia tenggelam dalam realita virtual (dunia maya) yang sangat intens, serba abu-abu, dan penuh “muslihat” (deception), maka “nalar identifikasi dan klasifikasi” harus bisa memenuhi dua fungsinya tersebut secara benar dan konsisten, sehingga memungkinkan kita untuk bisa memahami situasi-situasi sosial di sekitar kita secara lebih terang dan proporsional. 

Kembali ke si “A” dan si “B”.

Bagaimana semestinya si “B” (anggap saja si “B” mewakili diri kita) mengidentifikasi si “A”? —apakah si “A” sebagai teknisi IT, Muslim keturunan Jawa-Cina, penikmat Bach, pelukis amatiran, pendukung capres incumbent yang lebih memilih golput, ataukah si “A” penganut Islam garis keras, garis lurus, melengkung, mentiung, njerungup? Faktanya, semua identitas tersebut melekat pada diri si “A”, dan ini penting untuk diingat! Tetapi, yang harus dipahami di sini adalah bahwa identitas-identitas tersebut bersifat kontekstual: satu identitas tertentu bisa muncul dan menjadi lebih dominan dibanding identitas-identitas lainnya pada satu waktu dan tempat tertentu, tetapi di lain waktu bisa jadi identitas tersebut menjadi pre-dominan terhadap identitas yang lain atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Misalnya, pada saat pilkada semua tetangga dan teman si “A” ikut mencoblos, sementara si “A” tidak ikut, dia hanya leyeh-leyeh di teras depan rumahnya sambil menikmati gendhing Jawa. Kemudian ada pesan masuk dari si “B”  ke Whatsapp-nya “Cuk golput maneh! pegel!”. Di mata si “B”, bisa jadi identitas si “A” yang terlihat lebih dominan pada saat itu adalah “Golputers” ketimbang  sebagai teknisi IT atau pelukis amatir. Lain cerita waktu si “A” umroh ke Mekkah. Ketika si “A” makan bersama dengan sesama jamaah Indonesia yang berasal dari wilayah Indonesia Timur di pelataran Masjidil Haram, bisa jadi identitasnya sebagai orang Jawa pada saat itu lebih (terasa) dominan dibanding identitasnya sebagai teknisi IT; atau bisa juga identitas Jawanya menjadi pre-dominan terhadap identitas WNI-nya, atau bahkan identitas Jawanya hilang sama sekali sementara identitasnya sebagai WNI yang menjadi dominan, karena pada saat itu si “A” berada di suatu tempat baru yang dipenuhi oleh ribuan orang asing dari negara lain. Beberapa saat kemudian, ketika si “A” sedang thowaf mengelilingi Ka’bah berdesak-desakan dengan ribuan jamaah lain dan semuanya mengenakan warna kain yang sama—putih—sambil membaca doa dan puji-pujian kepada Allah swt, si “A” kemudian melihat dirinya dan semua orang-orang di sekelilingnya dengan identitas yang sama (Muslim), sedangkan identitasnya sebagai orang Jawa, WNI, alumni Gontor, dll. menjadi kurang atau bahkan tidak signifikan lagi, pada saat itu. Demikian seterusnya identitas-identitas sosial yang melekat pada diri kita muncul dan tenggelam mengikuti ruang-waktunya masing-masing. Hanya saja, memang ada identitas-identitas primordial yang melekat lebih kuat dalam diri kita dibanding identitas lainnya—ras dan etnisitas, agama, gender dan orientasi seksual, kewarganegaraan—karena melibatkan ciri biologis serta sejarah garis keturunan dan nilai-nilai sosial-budaya yang kita warisi selama berabad-abad dari nenek-moyang kita.

Maka, terkait identitas-identitas sosial yang menempel pada diri kita dan semua orang, meminjam istilah Rhoma Irama “dari pengamen sampai presiden, dari penjual koran sampai penjual kehormatan”, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang berlaku secara absolut, melainkan relatif, tergantung kapan dan dimana subjeknya berada. Di pagi hari si “A” lebih dikenal para pengguna jalan sebagai penjual koran, tapi di malam hari dia dikenal tetangga-tetangganya sebagai guru privat piano. Karena sifat dasar dari identitas sosial adalah relatif, maka ketika kita memperlakukan identitas tertentu—pada diri seseorang atau kelompok masyarakat—secara mutlak, akibatnya adalah proses identifikasi sosial yang secara alamiah bersifat kontekstual dan berlangsung dinamis akan berubah menjadi tekstual dan statis (mandeg). Apa akibatnya? kebingungan, kecurigaan, tuduhan dan hoax, ujaran kebencian, yang semuanya berujung pada konflik. Setelah kejadian 11 September 2001, masyarakat dunia, khususnya orang Barat, wa bil khusus media Barat, cenderung mengidentifikasi (agama) “Islam” sebagai suatu entitas sosial yang lekat dengan radikalisme dan terorisme. Lebih dari itu, berkembang semacam kesan umum bahwa apapun yang dikaitkan dengan “Islam”, apakah itu orang, kelompok masyarakat, ormas, dll., menjadi (agak) tidak mengenakkan atau menakutkan untuk didekati. Mengapa bisa sampai muncul kesan umum seperti ini hingga level global dan bertahan dalam waktu cukup lama?! Sangat sulit mencari jawaban tunggal atas isu kompleks tur lintas ruang-waktu semacam ini, tetapi efek samping dari peristiwa 11 September tersebut cukup jelas: distorsi makna dan absolutisme Islam sebagai identitas. Tragedi holocaust, konflik berdarah PKI v.s NU 1965, genosida Muslim Bosnia 1995, dan pembantaian Muslim Rohingya baru-baru ini adalah contoh ekstrem akibat dari cara pandang ‘ortodoks’ yang memutlakkan satu identitas tertentu, dalam hal ini agama.

Kecenderungan absolutisme identitas ini tidak melulu tentang agama atau ras, tetapi bisa dipersempit ke wilayah identitas yang bersifat superfisial sehari-hari. Mungkin sebagian dari kita melakukan identifikasi dan klasifikasi kepada teman, tetangga, atau ustad yang berjenggot panjang dengan dahi kehitaman atau berjilbab lebar dan bercadar ke dalam kelompok Islam garis keras (fundamentalis), dan mungkin begitu juga sebaliknya, yang tidak memelihara jenggot, bersarung, tidak berjilbab atau berpakaian agak ketat sebagai Islam abangan atau Islam KTP; pendukung presiden incumbent (sudah pasti) adalah pro-asing dan anti Islam, sementara yang  menolak (sudah pasti) adalah anti Pancasila dan pro-Islam; mereka yang bergelar doktor atau professor (sudah pasti) kredibel dan mumpuni, sedangkan yang tidak mempunyai gelar (sudah pasti) tidak kredibel; sarjana lulusan luar negeri (sudah pasti) lebih baik dari sarjana dalam negeri; dll. Pertentangan-pertentangan akibat nalar klasifikasi sosial semacam itu, jika dibiarkan begitu saja tanpa disertai koreksi, dapat menyebabkan terjadinya penggolongan-penggolongan sosial secara kacau. Kondisi ini mirip seperti “bug” atau “virus” pada sebuah sistem komputer yang dapat menyebabkan gangguan terhadap sistem operasinya. Meskipun penggolongan sosial sudah ada sejak dulu, tetapi di jaman virtual inilah—melalui jejaring sosial ala facebook, twitter, dan instagram—“bug” dan “virus” menemukan atmosfir dan iklimnya yang paling baik untuk berkembang biak dan menyusup secara cepat ke dalam pikiran para pengguna sosmed tersebut. Ciri paling menonjol dari korban “bug” dan “virus” ini adalah mereka menjadi sangat bersemangat (kalap) dalam membenarkan dan membela kelompok sosialnya sekaligus antipati terhadap kelompok lain yang berseberangan dengan mereka, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Lalu, bagaimana kita menghadapi “bug” dan “virus” ini ?  

 

  • Si A = koruptor, Si B = koruptor, si C = koruptor; A,B,C = Islam, maka semua koruptor beragama Islam
  • Si A = Islam, Si B = Islam, si C = Islam, si D = non-Muslim, maka si D bukan koruptor
  • JKW = pro-asing; Si A = pendukung JKW, si B = pendukung JKW, si C = pendukung JKW, maka A,B,C pro-asing
  • Si A = pendukung JKW, si B = pendukung JKW, si C = pendukung JKW, si D = bukan pendukung JKW, maka si D anti asing

 

Kerja “bug” dan “virus” terutama adalah menyebarkan gagasan seperti logika di atas: “kalau ini pasti benar, kalau tidak ini pasti salah”, “pengikut golongan ini pasti orang-orang baik, pengikut golongan lain yang menentang kubu ini pasti orang-orang bermasalah”. Setidaknya ada dua sifat berbahaya dari logika di atas, yaitu “absolutisme identitas” dan “generalisasi identitas” yang mana kedua-duanya berpeluang sangat besar memberikan hasil (kesimpulan) yang salah. Katakanlah saya seorang Muslim asli Indonesia dengan jenggot lebat dan dahi agak kehitaman, lalu di Suriah sana ada banyak orang dengan penampilan mirip saya yang menjadi anggota ISIS dan melakukan teror, kemudian beritanya ditayangkan di tivi nasional dan dimuat di koran-koran nasional. Apakah sah menyimpulkan bahwa saya pasti akan berperilaku sama dengan anggota ISIS tersebut semata-mata dengan menggunakan dasar berpikir “jenggot lebat dan dahi hitam”? Jika kita mengatakan iya, berarti nalar kita telah terinfeksi oleh “bug”. Contoh lain, saya bekerja sebagai staff HRD di suatu perusahaan dan tugas saya adalah melakukan perekrutan calon karyawan. Sepanjang karir saya, ada kecenderungan yang saya tangkap bahwa karyawan lulusan dalam negeri kurang produktif dibanding lulusan luar negeri. Lalu, apakah berarti ini bisa menjadi satu-satunya pembenaran bagi saya untuk membatasi atau tidak merekrut calon karyawan lulusan dalam negeri? Sekedar dugaan tidak masalah, tetapi ketika kita memberlakukan secara mutlak bahwa sarjana dalam negeri tidak produktif, maka kita sama seperti membuang berkarung-karung beras begitu saja, tanpa melihat isinya, hanya karena karung pertama dan kedua berisi pasir. Nalar identifikasi yang terinfeksi oleh “bug” dan “virus” adalah nalar “2 = 1 + 1”, yang selain “1 + 1” pasti (hasilnya) bukan “2” (“2 + 0”, “1.5 + 0.5”, “3 − 1”, “8 : 4”, atau “.. + .. + .. − ..” semuanya bukan “2” karena tidak 1 + 1). Apakah kita mengidentifikasi si “A” sebagai bukan Islam yang baik, bukan Islam Ahlusunnah, hanya karena ekspresi berislamnya tidak “1 + 1”?

Bahkan sekalipun tanpa ada penjelasan panjang lebar mengenai ilusi identitas di atas, saya yakin bahwa pada level paling dasar kita semua mempunyai kesamaan dalam banyak hal, sehingga tidak sulit untuk menyelenggarakan hidup bersama-sama secara harmonis. Selama masalah ilusi identitas ini tidak secara sengaja direkayasa dan dikembangkan untuk tujuan-tujuan politis kotor, kita tidak perlu khawatir karena nalar identifikasi dan klasifikasi ala “bug” dan “virus” ini sebenarnya tidak mempunyai banyak ruang gerak dalam diri kita. Lima tahun yang lalu kita mengidentifikasi si “A” sebagai pemabuk, Islam abangan, dan identitas-identitas negatif lainnya, tapi saat ini kita menemuinya sebagai Hafidz Quran dengan jenggot yang lebat dan dahi kehitaman, lalu kita mengidentifikasinya sebagai penganut Islam garis keras. Di lain kesempatan ia datang ke rumah sakit untuk menjenguk anak kita yang sedang opname dan mendo’akan kesembuhan untuk anak kita, lalu kita mulai membatin “Ternyata, selama ini mataku yang salah lihat”. Artinya apa? Artinya adalah bahwa bukan hanya identitas sosial yang bersifat tidak mutlak, tetapi subjeknya sendiri (kita) tidak pernah mutlak: dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, hingga menua, kita mengalami perubahan-perubahan dan transformasi—fisik, mental, spiritual—secara terus menerus. Maka dari itu, nalar identifikasi sosial yang berciri “absolutisme” dan “generalisasi” dengan sendirinya akan termentahkan oleh kenyataan bahwa sasaran mereka (objek sekaligus subjek—kita) tak pernah bersifat mutlak, meskipun untuk sampai pada tahap ini seringkali membutuhkan waktu dan kadang-kadang disertai dengan konflik dan korban jiwa. Dengan kata lain, sebuah identitas sosial tidak akan pernah sanggup mewakili, apalagi menampung luasnya dimensi sosial manusia. Akhirnya, sikap paling masuk akal dalam menghadapi keragaman sekaligus relativitas dari identitas sosial yang ada di sekitar kita adalah dengan mengedepankan semangat “saling mengenal” dan bersikap “adil”: jangan sampai kebencian kita kepada seseorang atau kelompok tertentu menjadikan kita tidak berlaku adil kepadanya.  

 

Memperoleh lebih banyak dari yang sedikit

Memperoleh lebih banyak dari yang sedikit

Kita hidup hanya sekali, namun jika kita menjalaninya dengan benar, itu sudah cukup” ─Mae West.

Sesungguhnya, mengejar sedikit harta (possessions) memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada mengejar banyak harta. (Hati) kita tahu bahwa ini benar. Tetapi, banyak orang mengabaikannya. Banyak masalah dalam hidup sebenarnya bermula dari kesulitan dalam memahami kebenaran-kebenaran yang sesungguhnya sederhana. Kesulitan semacam ini hampir tidak kita sadari, seringkali diabaikan begitu saja, karena kita sudah ‘dibiasakan’ bersikap pasif terhadap masalah-masalah. Cara pandang kita dalam melihat sesuatu sangat menentukan bagaimana sikap dan pilihan-pilihan yang kita buat dalam menjalani hidup. Misalnya, sedari kecil kita diajarkan untuk melihat kesuksesan (seseorang) dari banyaknya harta benda (yang ia miliki). Dan karena kita telah berkali-kali mendengar dan melihat ‘keyakinan’ tersebut dipraktikan dalam keseharian masyarakat kita, bahkan telah menjadi semacam jalan hidup bersama, kita mulai mempercayainya─kita tidak akan bahagia tanpa harta yang banyak. Hasilnya, kita melewatkan hari-hari kita dengan sibuk bekerja demi mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk bisa mendapatkan lebih banyak harta dan barang-barang.

Kebenaran seringkali sederhana, terlalu sederhananya terkadang kita meragukannya. Untungnya, setiap orang dianugerahi piranti super canggih yang bisa mengenali kebenaran tanpa memandang siapapun dia dan apapun status sosialnya, apakah ia seorang pengemis atau seorang presiden. Bahkan seburuk-buruknya penjahat, ia tidak bisa berbohong kepada dirinya sendiri. Begitu juga saat kita mendengar sebuah pesan sederhana bahwa “mengejar sedikit harta memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada mengejar banyak harta”, hati kita tidak bisa berbohong, betapapun kuatnya kita menyangkal. Hati kita memahami bahwa kebahagiaan itu melampaui harta dan kekayaan material. Dan kita tahu bahwa hidup kita sesungguhnya terlalu berharga hanya untuk sekedar mengumpulkan lebih banyak uang dan membeli lebih banyak barang-barang. Mulai sekarang, mari kita lebih sering mengingat:

Hidup kita sangat singkat. Kita hanya mempunyai satu kesempatan. Waktu berlalu sangat cepat. Dan sekali kita melewatinya, kita tak akan bisa lagi mengulanginya. Pergunakanlah waktu sebaik mungkin! Harta dan barang-barang hanya akan mencuri waktu dan energi kita. Rumah, mobil, laptop, smartphone, tablet, TV, furniture, pakaian, jam tangan, sepatu, tas, bahkan bulu mata palsu, semuanya membutuhkan perhatian yang hampir tidak ada habisnya: dicuci, dibersihkan, diperbaiki, diservis, dibuang, diganti dengan yang baru, dan harus dijaga (dari kemungkinan hilang atau dicuri). Perhatian, waktu, dan energi, banyak kita habiskan untuk mengurusi seputar harta dan barang-barang, dan bahkan kita tidak menyadarinya.

Hidup kita sangat unik. Fisik, kepribadian, karakter, bakat, dan orang-orang yang mempunyai peran (pengaruh) penting dalam hidup kita, semua hal tersebut menjadikan kita sangat “khas”. Hasilnya, hidup kita benar-benar khas, tak ada satu pun diantara kita yang sama persis. Hanya karena orang lain sibuk dan saling berlomba-lomba mengumpulkan harta dan barang-barang, bukan berarti kita juga harus mengikutinya.

Hidup kita sangat berarti (bermakna). Jauh melebihi kesuksesan (material, sosial), hati kita menghendaki “makna”, karena makna akan membekas selamanya. Sebaliknya, kita semua tahu bahwa harta benda dan barang-barang tidak bertahan lama, pasti rusak, seringkali melenakan (menyita waktu dan energi), dan suatu saat akan kehilangan fungsi (tak lagi diperlukan). Dan hampir semuanya memang sengaja dibuat seperti itu (by design).

Hidup kita untuk memberi inspirasi. Mari kita membuat jejak langkah (teladan) berharga untuk diikuti. Sedikit sekali orang yang bisa ‘mengubah dunia’ (baca: menginspirasi) dengan meniru (hidup) orang lain. Sebaliknya, orang-orang yang ‘mengubah dunia’ memiliki kehidupan yang khas (berbeda dengan orang pada umumnya) dan mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Harta benda bisa saja membuat orang lain terkesan untuk sesaat, tetapi tak pernah menjadi inspirasi.

Hidup kita sangat penting. Pikiran dan hati (jiwa) kitalah yang sesungguhnya membuat kita bernilai (berharga). Jangan korbankan peran penting diri kita di dunia ini (untuk membantu dan menginspirasi sesama) dan menggantinya dengan kesibukan remeh-temeh mengumpulkan harta dan barang-barang yang bisa dibeli hanya dengan menggunakan sebuah kartu plastik (baca: kartu kredit).

Kita layak mendapatkan yang lebih baik. Suka cita, kebahagiaan, dan kepuasan batin seringkali tak kasat mata: cinta, harapan, perdamaian, dan hubungan (relationship). Dan semua itu tidak dijual di supermarket, mall, atau online shop, jadi tidak ada alasan untuk mencari kepuasan dan kebahagiaan di sana. Orang-orang yang hidupnya hanya sibuk mengumpulkan harta dan barang-barang tak akan pernah puas (merasa cukup). Mereka selalu menginginkan yang lain yang lebih baru, lebih cepat, atau lebih besar karena pada dasarnya harta dan barang-barang tak akan pernah bisa memuaskan hasrat hati kita yang paling dalam, yakni hasrat akan makna (significance), keutuhan (wholeness), serta kedamaian (peacefulness).

Mari kita selalu mengingat bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dilewatkan demi sekedar mengejar dan menumpuk harta dan barang-barang. Ada lebih banyak suka cita dan kebahagiaan dengan memilih mengejar “yang lebih baik” (better), daripada mengejar “yang lebih banyak” (more). Mengumpulkan amal baik, bukan harta benda.

Diterjemahkan (dengan perubahan seperlunya) dari:

http://www.becomingminimalist.com/your-life-is-too-valuable-to-waste-chasing-possessions/

Hujan dan Banjir: 1% Air, 99% Babad As-Samawati wal Ardh

Hujan dan Banjir: 1% Air, 99% Babad As-Samawati wal Ardh

Manusia itu pragmatis, apa yang menguntungkan buat dirinya ya itu yang benar. Tapi, meski dikesankan negatif, sifat pragmatis ini—dalam konteks yang tepat—bisa ‘berguna’ karena ia memungkinkan manusia bertindak selektif dan efisien dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai kepentingannya. Masak jadi manusia gak pragmatis sama sekali, ya gak bisa juga. Jaman sekarang semua perlu pragmatis. Mau beli nasi padang gak perlu susah-susah datang ke R.M Padang, cukup pakai aplikasi “GO-FOOD” nasi padang diantarkan sampai depan rumah; chatting sama teman lama tanya kabar ini itu, padahal ujung-ujunge mung utang duit—tanya kabar teman kalau ada perlunya saja; daripada bingung cari pekerjaan yang sesuai keinginan tapi gak dapat-dapat, ya sudah tawaran yang ada saja diterima meski sebenarnya agak berat hati, itung-itung daripada nganggur, toh gajinya lumayan. Hukum pragmatisme itu kontekstual, tergantung situasi, kadang boleh-boleh saja tapi bisa juga terlarang. Dalam dunia bisnis, pragmatisme ini adalah mahzab mainstream para pelaku bisnis. Korporasi agribisnis seperti perusahaan kelapa sawit bisa membuka lahan baru dengan cara yang mudah, murah, dan relatif aman: membakar hutan dan rawa! Mereka tidak ngurus asapnya, tidak mau tau binatang liar yang mati terbakar maupun yang terusir dari tanah kelahirannya sendiri, yang penting perusahaan dapat lahan untuk musim tanam berikutnya! Al-Fatihah!

Selain model pragmatisme di atas, masih ada varian pragmatisme yang lain. Pragmatisme jenis ini adalah yang mungkin paling samar dan tidak populer, baik dilihat dari sudut pandang hukum agama, moral/etika, maupun hukum kemasyarakatan. Hanya saja, meskipun samar dan tidak populer, tapi pragmatisme yang satu ini dampaknya lebih luas dan susah diprediksi. Saya ingin mengambil contoh sederhana, HUJAN dan BANJIR. Di Indonesia hujan menjadi hajatan rutin tahunan. Biasanya ia dijadwalkan turun antara Oktober sampai Maret. Puncaknya di peralihan akhir tahun ke awal tahun. Musim hujan itu artinya tandon air di langit mencek-mencek (sudah penuh) dan siap ditumpahkan mak byor—suka tidak suka air harus ditumpahkan karena mendung tidak punya pilihan lain kecuali wajib patuh kepada aturan langit, tidak peduli apapun kondisi yang sedang terjadi di bumi (mau presiden Amerika mantu atau Raja Arab lawatan ke Jakarta, kalau hujan ya hujan, banjir ya banjir). Singkat cerita, seperti yang sudah-sudah, hujan deras sehari semalam tanpa henti. Saking berlimpahnya air yang ditumpahkan malaikat Mikail a.s, akibatnya kali meluap dan satu kecamatan tiba-tiba berubah menjadi tambak (kolam ikan). Banjir sampai setinggi atap rumah. Warga diungsikan ke masjid-masjid, balai desa, dan tenda pengungsian; sementara rute-rute utama kendaraan dialihkan ke jalur lain, macet dimana-mana. Kapokmu kapan??!! Hujan mulai reda, air di kali tak lagi meluap, banjir mulai surut dan aktivitas masyarakat kembali seperti biasa, begitu seterusnya dan berulang setiap tahunnya. Puluhan tahun kebanjiran, selama itu pula nyaris tidak ada perlawanan sengit dari pemerintah dan warga terhadap banjir. Mereka sudah sepakat, setidaknya dalam level batin, bahwa “banjir itu punya waktunya sendiri, ia tahu kapan harus datang dan kapan harus pergi, tak perlu dirisaukan”. Akibatnya, selama puluhan tahun menghadapi banjir, pemerintah dan warga bersama-sama mulai membangun suatu sistem pertahanan berbasis pragmatisme samar: hujan dan banjir tidak memberi keuntungan apa-apa, yang ada malah nambah masalah, jadi tidak ada gunanya mengurusi banjir karena hanya buang-buang energi dan biaya. Menyelesaikan masalah banjir tidak (pernah) dilihat sebagai sebuah tugas yang harus dikerjakan secara sungguh-sungguh dan kontinyu—karena ia tidak mempunyai nilai—melainkan hanya beban tahunan yang ditanggapi sekedarnya saja.

Pragmatisme samar mengikuti kaidah “….. tidak masalah, yang penting saya senang”. Membuang bungkus rokok ke selokan ora masalah, yang penting saya bisa merokok bebas; membuang bungkus nasi goreng dan tas kresek ke kali gak ada masalah, yang penting saya bisa jualan nasi goreng; mbabati pohon di bantaran sungai sah-sah saja, yang penting saya bisa nanam padi. Kita terbiasa berpikir linear, ndelujur, memisahkan antara sebab-akibat seperti rel kereta api yang tidak ada titik temunya—menganggap bahwa antara banjir dengan isi pikiran dan perilaku kita sehari-hari tidak ada hubungannya sama sekali. Urusanku kuwi mung budhal kerjo, golek duit, banjir urusane pemerintah! Pragmatisme samar semacam ini sudah menjadi kultur di negara kita. Pemerintah sendiri dan sebagian (besar) wakil rakyat juga mempraktikannya, tapi dalam level yang berbeda. Kalau ada yang mau memakai ruang terbuka hijau di dekat kampus untuk didirikan mall ya monggo, yang penting bisa bayar uang sewanya. Warga penghuni bantaran sungai ci-embuh rek dihimbau supaya tidak membuang sampah ke kali, tapi pemerintah sendiri membiarkan mereka tinggal berdempetan di bantaran kali tanpa menyediakan instrumen kebijakan yang tepat sasaran serta program-program yang jelas dan berkelanjutan. Yo gak iso ta rek, yekopo sih. Warga yang tinggal di bantaran kali di kota-kota besar itu sumpek rumahnya tur sumpek pikirannya. Mereka perlu membuang kesumpekannya biar tidak stres, dan cara paling gampang ya dengan membuang sampah ke kali! Kalau sumpeknya masih belum hilang juga, bisa jadi mereka yang menjegurkan diri ke kali. Barangkali kita semua belum benar-benar memahami sampai meresap ke tulang sum-sum bahwa salah satu fakta paling signifikan di dunia ini adalah efek dari penggandaan (multiplication) dan pengulangan (repetition). Jika di satu desa hanya ada dua atau tiga orang saja yang punya kebiasaan membuang bungkus rokok dan tas kresek ke kali seminggu sekali, mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi, akan lain ceritanya jika penduduk di desa tersebut tiba-tiba semuanya kalap lalu membuang bungkus rokok dan tas kresek ke kali setiap hari, haqqul yaqin gak suwe sampah pasti numpuk dan aliran kali mulai tersumbat, kecuali jumlah penduduk desa tersebut hanya tiga orang.

Itu tadi yang diomongkan baru sebatas tradisi membuang sampah, belum lagi kalau harus membahas peran hutan sebagai pengendali banjir, sebagai “dewa bumi”. Jika banjir dilihat sebagai output, maka inputnya adalah hujan, sementara prosesnya secara sederhana bisa dilihat sebagai fungsi dari kali, hutan, dan tata ruang (kota). Dalam skala ekosistem yang lebih luas, fungsi hutan terkait dengan banjir adalah mirip seperti fungsi spons (sponge) super tebal: air hujan yang tumpah dari langit sebagian besar akan diserap dan disimpan di dalam tanah untuk jangka waktu tertentu dan akan dilepaskan (secara pelan tetapi kontinyu) sebagai mata air atau rembesan-rembesan air tanah. Warna hijau kebiruan yang biasa kita lihat di gunung-gunung dan perbukitan itu tidak hanya berfungsi menahan tumpahan air hujan supaya tidak langsung menghantam permukaan tanah lalu mengalir deras ke arah pemukiman penduduk atau nglunyur ke kali, tetapi juga menyimpan, mengatur, serta mendistribusikan air tanah secara efisien dan adil. Hutan itu ya direktur teknis ya manajer proyek yang merangkap sebagai engineer sekaligus operator. Ia memungkinkan berjalannya siklus air, memasok oksigen, regulator iklim mikro maupun makro, serta menyediakan hunian paling baik dan aman bagi rumah tangga ribuan satwa liar. Hutan adalah pelaku setia ajaran “rahmatan lil-alamiin” yang dimandatkan Tuhan kepadanya. Lalu, monggo dipikir sendiri bagaimana jadinya kalau spons tadi kita kikis, dikruweki, dibolongi, dibabat terus menerus? Kalau cuma dibabat seluas kandang ayam tidak ada masalah, tapi kalau mbabatnya seluas 700 kali lapangan bola dan itu dilakukan setiap hari, piye coba (bayangkan kepala gundul plonthos disiram air, ya bersih tidak ada air yang nyangkut di situ). Kalaupun mau dibabat semua juga tidak jadi soal, tapi apakah pemerintah dan korporasi-korporasi serakah itu mau bertanggung jawab atas perbuatannya? Kalaupun mau, apa mereka punya “kesaktian” menahan tumpahan air hujan, mencegah longsor, membendung banjir, menyediakan air bersih untuk jutaan warga serta mengairi ribuan hektar sawah, melembabkan udara dan mengatur naik-turunnya temperatur, serta menyediakan rumah bagi ribuan hewan liar? Alhamdulillah kalau tidak punya, artinya mereka tidak perlu bekerja lembur siang malam seumur hidup hanya untuk mengurusi persediaan dan distribusi air tanah.

Jadi saudara-saudara, manusia punya kecenderungan menganggap sesuatu itu tidak bernilai—meskipun sesuatu itu bisa jadi sangat vital dan menentukan kelangsungan hidupnya—jika sesuatu itu tidak dibuatnya sendiri, bisa diperoleh secara cuma-cuma alias gratisan serta tidak perlu bersusah-payah  mendapatkannya, apalagi jika sesuatu itu tersedia dalam jumlah yang melimpah secara terus-menerus (seakan-akan) tak terbatas. Saat ini kita hidup di zaman dimana apa yang sesungguhnya berguna terlihat biasa-biasa saja, bahkan dianggap tidak mempunyai nilai, sementara apa yang sesungguhnya tidak berguna kita raih dengan susah payah. Air hujan yang melimpah, sungai yang mengurat-nadi ke dalam kehidupan masyarakat, serta hutan tropis yang menghampar, semua itu adalah sebagian dari kenyataan yang tidak mempunyai tempat di hati kita. Akibatnya, kita tidak menghormatinya. Dan apa yang tidak kita hormati, tidak akan kita jaga. Tantangan berat pendidikan Indonesia adalah bagaimana mengasah serta mengasuh alam pikir dan kepekaan batin anak-anak serta generasi muda kita agar mampu melihat “hubungan-hubungan tersembunyi” antara dirinya sendiri- keluarganya-masyarakatnya dengan fenomena alam di sekitarnya. Harapannya, mereka bisa melihat mesin-mesin pembabat hutan di dalam kertas yang dipakainya untuk menulis, merasa mual ketika melihat aneka warna pakaian dipajang di mall, melihat deposit partikulat di dalam paru-paru warga pedalaman ketika ia melihat jutaan lampu menerangi kota tempat tinggalnya, atau ‘meramal’ datangnya banjir ketika melewati perbukitan yang gundul dan sungai yang tertutup sampah. Kalau mereka bisa dan terbiasa melakukannya, maka bibit-bibit pragmatisme samar tidak akan gampang bercokol di dalam hati anak-anak dan generasi muda kita.

Hanami (花見)

Hanami (花見)

24 April, 2012 @Katahira campus, Tohoku University

Karena teman saya ada kelas Kanji, sementara hari masih terlalu siang untuk pulang ke kos-kosan, akhirnya saya memilih jalan-jalan sendiri ke Katahira menggunakan bis kampus yang (entah kenapa) selalu datang dan pergi tepat waktu sesuai jadwal! (setau saya nyaris tak pernah telat lebih dari 5 menit). Perjalanan dari Kawauchi—tempat saya mengikuti kelas Bahasa Jepang—ke Katahira dengan menggunakan bis kampus membutuhkan waktu ±12 menit, tapi kalau jalan kaki bisa 40-50 menit atau bahkan satu jam lebih tergantung banyak faktor (ex: cuaca, umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan, uang, dkk).

Ngeeeeeeeng… ciiiiiiiiittt..!! (bis sampai di Katahira). Dan setiap kali sebelum keluar pintu bis, tak lupa saya mengucapkan “arigatou gozaimashita”..  biasanya si pak sopirnya bales “hai! itterashai”  <(^_^)

Salah satu bangunan utama di kampus Katahira.

Begitu keluar dari bis saya langsung menuju ke arah taman sambil bersiap-siap mengeluarkan HP untuk njepret sakura. Jumlah pohon sakura di kampus Katahira tidak begitu banyak, hanya berkisar puluhan, namun tetap saja sayang untuk dilewatkan mengingat kesempatan melihat sakura belum tentu datang dua kali.. Hehe. Oh iya, Katahira campus ini adalah salah satu dari lima kampus-nya Tohoku University, empat kampus yang lain: Kawauchi, Aobayama (tempat ane), Seiryo dan Amamiya. Oke, sekarang saatnya melihat sakura ..

Setau saya ini pohon sakura paling besar di Katahira, lokasinya di tengah taman dan paling sering dikunjungi orang untuk foto-foto.

Orang lain Hanami bareng-bareng, saya cuma bisa mengintip dari balik pohon (-_-)

Ada beberapa species sakura, salah satunya seperti foto di atas, warna bunganya putih-pink, tangkai bunganya menjuntai ke bawah (bisa dipakai untuk alternatif gantung diri) 

Ini jenis sakura yang warnanya paling mencolok: pink-kemerahan

Barangkali sakura jenis ini yang paling banyak terdapat di Jepang, cantik tho? Hehe..

Selain motret sakura, saya juga motret orang terutama anak-anak, karena mereka lucu (Kawai, kalau kata orang Jepang). Saya lihat banyak ibu-ibu membawa anaknya yang masih balita ditaruh di kereta dorong sambil berjalan mengelilingi taman. Ini dia salah satu balita yang saya temui lagi main-main berdua sama ibunya (yang masih kelihatan muda).. Wkwkwk..

Adek sama siapa?” .. sama mamah ..salam ke mamah ya (karo bisik-bisik) ..

Satu lagi ibu-ibu (muda) saya samperin—si ibu lagi duduk sendirian sambil ngeliatin kedua anak laki-lakinya yang tengah bermain kejar-kejaran. Sambil pasang gaya malu-malu saya mendekati si mbak (panggil mbak aja ya berhubung masih muda). “Sumimasen, sashin wa daijoubu desu ka?“, sambil nunjukin HP dan ngasih isyarat mau minta tolong difoto`in. Wkwkwk… bahasa Jepangku ngawurrr! tapi si ibu langsung paham, “Hai! daijoubu desu“. Setelah selesai foto-foto, lalu saya duduk di rerumputan ga begitu jauh dari tempat si mbak tadi. Begitu melihat saya ndelosor di rumput, si mbaknya langsung menawarkan ke saya untuk bergabung di tempatnya (sambil tangannya menunjuk ke plastik biru yang dipakainya untuk duduk). “Yo wes lah lumayan ono konco ngobrol”, pikir saya dalam hati. Hai dozo..“, kata mbaknya sambil menyodorkan kue ke saya (rejeki gak oleh ditolak!). Selanjutnya.. kami ngobrol ringan, sampai akhirnya si mbaknya tanya ke saya “Hitori de..? kanojo wa doko? Indonesiajin, Nihonjin desu ka..?” (Kok dewean ae, pacare ndek endi? arek Indonesia opo Jepang?). Kapok koen!!

Kakak-beradik, Yuijiro (kanan) dan Yohe (kiri) .. Kawai desu neeeeeeee ..

Hanami adalah momen yang indah bagi seluruh warga Jepang, terlebih bagi mereka yang merayakannya bersama kekasih hati, seperti kakek-nenek ini.

Kekalih mugi tansah pinaringan katentreman ..

IMG_0188a

Nampang dulu (^_^)v

Hanami (花見 => Hana: bunga; Mi: melihat)

“Hanami lebih dari sekedar berjalan-jalan sambil melihat sakura. Hanami adalah menjadi sakura itu sendiri ..”

Terima Kasih

Alhamdulillahirabbil`alamiin,

Setelah menunggu selama tujuh bulan sejak Agustus 2011, akhirnya Senin kemarin (1 April, 2012) saya dan teman-teman penerima beasiswa Monbukagakusho yang lain sampai di Jepang.  Apa yang saya inginkan telah saya dapatkan, dan meski usaha untuk mencapai keinginan ini berasal dari niat dan gerak tubuh saya, tapi jika tanpa izin dan pertolongan Allah swt. maka sulit rasanya untuk  bisa menerima bahwa perjuangan selama setahun terakhir ini (mulai dari mencari professor, mengirim berkas seleksi ke Kedubes Jepang, tes tulis dan wawancara, urusan dokumen, sampai persiapan keberangkatan ke Jepang) adalah suatu hal yang bisa saya lalui. Pertolongan Allah berupa-rupa macam dan bentuknya, tak mungkin bisa saya perinci satu-persatu (impossible!), beberapa diantaranya berupa kebaikan hati dan doa orang-orang terdekat, saudara dan teman-teman.

 

1. Bapak-Ibu dan keluarga di rumah

2. Mbak Zie dan Mumun, thanks pinjaman laptopnya

3. Novran, thanks udah mau nganterin ke stasiun

4. Himam, thanks pinjeman baju batiknya

5. Samsul Huda, thanks udah ngasih tumpangan tidur n nraktir makan

6. Mak nyong Hakim, mas Hakeeem.. makaaaan!! 😀

7. Lionk, thanks dah mau bantu ngambil dokumen ke Kedubes n ngirim ke Malang 🙂

8. Hanin, suwun wes gelem njalukno stempel nang Jurusan

9. Datun, mbak Awok .. suwun ya

10. Cak Mario, suwun sing wuaaakeh mas .. kapan-kapan impromptu maneh nang Paciran 🙂

11. Distra, suwun le .. ternyata kosmu cedak Gang Potlot

12. Bu. Umi, terima kasih bu, maaf malah merepotkan ..

13. Flow, suwun wes diterno nang omahe Bu. Umi n golek dasi batik ndek Margo City 🙂

14. Pak Ajis & istri, pak Nari, wong-wong kabeh sing ndek Pepen; Bu Darti, konco-konco kos KL-66 (bang Gandes, Samsul, Pak Dedik, Angga, Ucok, Amri, Aap, Tomy, dkk); tonggo-tonggo kabeh ndek Cerme; konco-konco SMA (Iwan, Wahyu, Ita, dkk); Titik, Budiman, Mona, Nana, Ainul, Kembar Atik-Anik, Pak Yoga, Bu. Atik, Pak Har, Mbak Nanik; teman-teman Monbusho 2012, dll.

 

Semoga kebaikan dan doanya dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Jika ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, jika ada takdir Tuhan kita ketemu lagi ..

 

Salam,

Shofie

*かぜをひきそう*

 

 

Ketinggalan Pesawat

Ketinggalan Pesawat

17 Februari, 2012

Hari ini, tepat dua tahun yang lalu, mestinya saya sudah tiba di rumah. Akan tetapi takdir berkata lain: saya harus rela ngemper di sebuah Bandara, 5333 kilometer dari rumah.

Rangkuman kronologis kejadiannya seperti berikut: 😀

  • Selasa, 30 Juni 2009: Alhamdulillah.. dapat email dari National Institute for Physiological Sciences, Okazaki, Jepang. Isinya pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi untuk mengikuti short-term visit di NIPS selama dua minggu 😀
  • Minggu, 8 November 2009: Berangkat ke negerinya Doraemon
  • Sabtu, 21 November 2009: Pulang ke negara tercinta 😀
  • Jumat, 12 Februari 2010: Balik lagi ke Jepang dalam rangka ikut seleksi Program Ph.D (Gagal mas bro :D)
  • Rabu, 17 Februari 2010: And the story begins..

Rabu, 17 Februari 2010

Lihat jam: 06.30 (waktu Jepang). Gelodak!! langsung ke kamar mandi, cuci muka sama sikat gigi. Ganti pakaian, beres-beres barang, tas, koper, sampah, dll. Emmm.. ada yang ketinggalan gak ya?? Gak ada! langsung turun tangga ke bagian administrasi dormitori kampus, nyerahin kunci kamar, pake sepatu trus buka pintu kaca depan. Sayonaraaaa mina san..!

Mishima Lodge (sisi sebelah kanan, kalau malam sereeeeem :D)

Ternyata teman saya sudah nunggu di depan, katanya sudah setengah jam(an) nunggu. Teman saya ini adalah adek angkatan waktu kuliah dulu. Namanya Dwi Wahyu Indriati, panggilannya Atik, dia studi Ph.D di NIPS sejak Oktober 2008 (kalau gak salah). Tanggal 5 Februari kemarin dia baru saja nikah 😀 Selamat ya Tik, semoga jadi keluarga sakinah n studinya bisa selesai tepat waktu..

Sambil setengah lari saya dan Atik menuju ke salah satu tempat pemberhentian bus terdekat. Katanya Atik, kalau jalan kaki ke stasiun kelamaan, waktunya gak nutut. Setelah nunggu akhirnya bus datang. Ngeeeeeng.. Ciiiiiit..!! bus tiba di depan stasiun Higashi Okazaki“. Sambil lari-lari saya ngikutin Atik ke arah loket karcis, lalu naik tangga menuju ruang tunggu kereta. Nah, ada yang unik di sini. Si petugas stasiun (kalau di Indonesia mungkin semacam satpam) selalu mengucapkan “Ohayo gozaimasu” (sambil agak menundukkan kepala) kepada setiap orang yang melewati pintu masuk untuk (berbaris) menunggu kereta. Setelah saya amati, ternyata si bapak ini terus saja mengucapkan Ohayo gozaimasu sejumlah orang yang datang ke stasiun (lha lek wonge kabehe 200, opo gak ngiler iku marine). Keren kan?

Higashi Okazaki (kayaknya ini bagian belakang stasiun, agak lupa) 😀

Perjalanan dilanjutkan ke Central Japan International Airport (Centrair), Nagoya. Lama perjalanan dari Higashi Okazaki ke Centrair sekitar 40-45 menit. Di dalam kereta saya ga bisa santai, yang ada dalam pikiran cuma bayangan pesawat Japan Airlines (JAL) yang sudah siap-siap mau take-off. Jadwal penerbangan saya jam 08.45, sementara jam 08.00 saya masih di dalam kereta (baru 10 menit perjalanan, masih ada 30 menit lagi). Akhirnya sampai di bandara, dan perasaan saya makin gak karuan. Sambil lari saya melirik ke arah jam yang tergantung di dinding (08.35). Allahu Akbar! saya berlari makin cepat, menyerobot lalu-lalang orang-orang di sepanjang jalan menuju pintu masuk airport (minggir.. minggir.. barang atos whoiiiii). Kasihan Atik, dia juga ikut lari-lari sambil membawakan sebagian barang bawaan saya (seru kan Tik? hehe).

Saya dan Atik masih panik, kebingungan mencari lokasi lobi keberangkatan. Masih terus berlari-lari kesana kemari sambil tengok kanan-kiri (koyok wong ilang), lalu ada mbak cantik (pramugari) yang menghampiri kami sambil menanyakan sesuatu. Begitu si mbak melihat e-ticket yang dipegang Atik, saya bisa melihat dengan jelas respon terkejut di wajahnya. Mbaknya langsung berlari sembari memberikan isyarat ke kami untuk mengikutinya (mlayu maneeeeeh). Tak lama kemudian kami sampai di loket pemeriksaan tiket (check-in counter). Satu lagi mbak cantik (staf JAL) datang menghampiri kami sambil melihat e-ticket yang dipegang Atik, “hikôki mo chotto..”, begitu kata si mbaknya (sambil mengisyarakatkan pake tangan kalau pesawat saya baru saja take-off). Apppaaahh?!! seketika itu saya panik dan cemas tapi tidak sepanik waktu turun dari kereta. Staf JAL yang ada di bagian konter meminta e-ticket saya, dia bilang akan mencoba mencarikan penerbangan yang lain ke Jakarta. Teman saya sempat was-was kalau saya bakal diminta membayar biaya tambahan untuk tiket yang baru. Alhamdulillah aman! Kata mbaknya, saya sudah dibooking-kan kursi kosong untuk penerbangan Tokyo-Jakarta tapi sayangnya jadwal penerbangan ke Jakarta hanya ada satu kali keberangkatan/hari. Horeeeee, saya ga jadi pulang 😀

Setelah diberi e-ticket baru oleh staf JAL dan dikasih tau bahwa jadwal penerbangan saya diganti keesokan harinya (18 Februari 2010, jam 08.45), saya agak lega. Lalu saya dan Atik berjalan menepi mencari tempat duduk untuk melepas lelah (asli awak rasane koyok digepuki wong sak kampung, pegel campur lemes). Saya bilang ke Atik kalau saya tidur di Airport saja, gak masalah. Dia menawarkan ke saya untuk tidur di apartemen temannya, atau kalau mau bisa mencoba putar balik ke Okazaki nginep di laboratoriumnya sensei. Whattt?! Semalam sebelumnya saya sudah pamit pulang ke sensei dan teman-teman di laboratorium, kan gak lucu kalau tiba-tiba saya datang lagi ke laboratorium bawa koper dan bangkelan sambil tertunduk lesu, “maaf saya ketinggalan pesawat, apa saya bisa tidur di lab malam ini??”  😦

Di Airport saya ditemani Atik sampai jam 3(an) sore: jalan-jalan ke laut, keliling airport, ditraktir makan dan dibelikan Tokyo Banana.. hehe (suwun tik, engko ganti tak traktir godo gedhang). Jam 15.00 Atik balik ke Okazaki .. Saya pun lontang-lantung sendirian di airport, karena merasa masih kecapekan setelah lari-lari tadi, saya tidur di kursi panjang di salah satu sudut ruangan. Tas dan barang-barang bawaan saya titipkan di brankas penitipan (bayar pake koin). Tak terasa sudah malam. Perut lapar. Saya jalan-jalan cari makan, sambil jepret-jepret kanan kiri pake HP tercintah (Sony Ericsson W880i).

Jam 21.00 bandara sudah mulai sepi, lampu di lobi-lobi utama dan ruang tunggu sudah mulai dipadamkan. Saya pindah ke ruangan khusus yang disediakan bagi penumpang yang terpaksa menginap di bandara karena suatu hal (mungkin penundaan jadwal keberangkatan pesawat). Ruangannya tidak terlalu besar, ada kantin kecil dan beberapa kursi panjang untuk tidur. Saya lihat di ruangan sebelah ada beberapa orang lagi cangkruk sambil minum bir, juga segerombolan pramugari dan pilot berjalan melewati ruangan tunggu menuju hotel Centrair. Februari adalah musim dingin, anginya kenceng banget. Saya sampe menggigil kedinginan, padahal kondisi ruangan cukup tertutup dan saya sudah memakai jaket. Pas enak-enak tidur, tiba-tiba saya dibangunkan oleh dua orang petugas keamanan bandara (semacam satpam lagi). Pak satpam ini meminta saya menunjukkan paspor dan visa. Setelah dilihat-lihat, mereka mengembalikan paspor saya dan mengajukan beberapa pertanyaan ‘aneh’ seputar agama (SARA wong iki!). Seingat saya, mereka bertanya apakah saya mengetahui lokasi masjid di Nagoya, apakah saya pernah ke sana, apa yang saya lakukan selama di Okazaki, bagaimana saya beribadah selama di Okazaki, berapa kali saya beribadah (sholat) dalam sehari, bla.. bla.. (minggatooooo..!) 😀

Lha kok wes isuk.. jam 05.30 saya menuju brankas penitipan barang untuk mengambil tas dan barang-barang bawaan. Lalu ke toilet cuci muka dan gosok gigi. Fressshhh! Pesawat baru berangkat jam 08.45, jadi masih 2,5 jam lagi menunggu. Saya gunakan 2,5 jam ini untuk melihat-lihat pesawat dari atas balkon bandara sambil jepret-jepret 😀

dsc01605.jpg

Jam 08.30 saya sudah di ruang tunggu untuk boarding pass dan bersiap-siap meninggalkan Nagoya. Sebenarnya cerita masih berlanjut di Narita, Tokyo, tapi ga penting.. Hehe. Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan 6 jam Tokyo-Jakarta, lalu transit di Jakarta selama 4 jam sebelum berangkat ke Surabaya, akhirnya saya sampai di rumah jam 00.00 (sekitar jam 12 malam). Alhamdulillah..

Catatan:

20 Oktober 2009tiga bulan sebelum kejadian ini (ngemper di bandara)saya mendapatkan email dari sekretarisnya sensei di NIPS, namanya Reiko Kimura. Ia memberitahukan bahwa nanti pada tanggal 8 November 2009, yakni setibanya saya di Centrair, saya diminta menginap di Comfort Hotel Centrair (kamar sudah dipesankan). Saya mengirimkan email balasan ke Ms. Reiko Kimura, isinya menolak secara halus untuk menerima fasilitas tidur di hotel, saya ingin tidur di bandara saja (jika diijinkan oleh pihak NIPS). Keesokan harinya saya mendapat email balasan dari Ms. Reiko Kimura, ia mengatakan bahwa fasilitas yang saya peroleh (menginap di hotel) sudah menjadi protokol (ketentuan) dari NIPS, jadi saya diminta untuk mengerti dan menerimanya. Karena aturannya seperti itu, ya sudah saya terima.

12 Februari 2010 saya balik lagi ke Jepang untuk yang kedua kalinya dalam rangka mengikuti ujian masuk universitas. Tanpa saya duga sebelumnya, ternyata keinginan saya untuk tidur di bandara dulu dikabulkan. Menurut jadwal, tanggal 17 Februari 2010 saya sudah harus pulang ke Indonesia, akan tetapi takdir berkata lain: saya bangun kesiangan, ketinggalan pesawat, akhirnya tidur di bandara  😀