Memperoleh lebih banyak dari yang sedikit

Memperoleh lebih banyak dari yang sedikit

Kita hidup hanya sekali, namun jika kita menjalaninya dengan benar, itu sudah cukup” ─Mae West.

Sesungguhnya, mengejar sedikit harta (possessions) memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada mengejar banyak harta. (Hati) kita tahu bahwa ini benar. Tetapi, banyak orang mengabaikannya. Banyak masalah dalam hidup sebenarnya bermula dari kesulitan dalam memahami kebenaran-kebenaran yang sesungguhnya sederhana. Kesulitan semacam ini hampir tidak kita sadari, seringkali diabaikan begitu saja, karena kita sudah ‘dibiasakan’ bersikap pasif terhadap masalah-masalah. Cara pandang kita dalam melihat sesuatu sangat menentukan bagaimana sikap dan pilihan-pilihan yang kita buat dalam menjalani hidup. Misalnya, sedari kecil kita diajarkan untuk melihat kesuksesan (seseorang) dari banyaknya harta benda (yang ia miliki). Dan karena kita telah berkali-kali mendengar dan melihat ‘keyakinan’ tersebut dipraktikan dalam keseharian masyarakat kita, bahkan telah menjadi semacam jalan hidup bersama, kita mulai mempercayainya─kita tidak akan bahagia tanpa harta yang banyak. Hasilnya, kita melewatkan hari-hari kita dengan sibuk bekerja demi mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk bisa mendapatkan lebih banyak harta dan barang-barang.

Kebenaran seringkali sederhana, terlalu sederhananya terkadang kita meragukannya. Untungnya, setiap orang dianugerahi piranti super canggih yang bisa mengenali kebenaran tanpa memandang siapapun dia dan apapun status sosialnya, apakah ia seorang pengemis atau seorang presiden. Bahkan seburuk-buruknya penjahat, ia tidak bisa berbohong kepada dirinya sendiri. Begitu juga saat kita mendengar sebuah pesan sederhana bahwa “mengejar sedikit harta memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada mengejar banyak harta”, hati kita tidak bisa berbohong, betapapun kuatnya kita menyangkal. Hati kita memahami bahwa kebahagiaan itu melampaui harta dan kekayaan material. Dan kita tahu bahwa hidup kita sesungguhnya terlalu berharga hanya untuk sekedar mengumpulkan lebih banyak uang dan membeli lebih banyak barang-barang. Mulai sekarang, mari kita lebih sering mengingat:

Hidup kita sangat singkat. Kita hanya mempunyai satu kesempatan. Waktu berlalu sangat cepat. Dan sekali kita melewatinya, kita tak akan bisa lagi mengulanginya. Pergunakanlah waktu sebaik mungkin! Harta dan barang-barang hanya akan mencuri waktu dan energi kita. Rumah, mobil, laptop, smartphone, tablet, TV, furniture, pakaian, jam tangan, sepatu, tas, bahkan bulu mata palsu, semuanya membutuhkan perhatian yang hampir tidak ada habisnya: dicuci, dibersihkan, diperbaiki, diservis, dibuang, diganti dengan yang baru, dan harus dijaga (dari kemungkinan hilang atau dicuri). Perhatian, waktu, dan energi, banyak kita habiskan untuk mengurusi seputar harta dan barang-barang, dan bahkan kita tidak menyadarinya.

Hidup kita sangat unik. Fisik, kepribadian, karakter, bakat, dan orang-orang yang mempunyai peran (pengaruh) penting dalam hidup kita, semua hal tersebut menjadikan kita sangat “khas”. Hasilnya, hidup kita benar-benar khas, tak ada satu pun diantara kita yang sama persis. Hanya karena orang lain sibuk dan saling berlomba-lomba mengumpulkan harta dan barang-barang, bukan berarti kita juga harus mengikutinya.

Hidup kita sangat berarti (bermakna). Jauh melebihi kesuksesan (material, sosial), hati kita menghendaki “makna”, karena makna akan membekas selamanya. Sebaliknya, kita semua tahu bahwa harta benda dan barang-barang tidak bertahan lama, pasti rusak, seringkali melenakan (menyita waktu dan energi), dan suatu saat akan kehilangan fungsi (tak lagi diperlukan). Dan hampir semuanya memang sengaja dibuat seperti itu (by design).

Hidup kita untuk memberi inspirasi. Mari kita membuat jejak langkah (teladan) berharga untuk diikuti. Sedikit sekali orang yang bisa ‘mengubah dunia’ (baca: menginspirasi) dengan meniru (hidup) orang lain. Sebaliknya, orang-orang yang ‘mengubah dunia’ memiliki kehidupan yang khas (berbeda dengan orang pada umumnya) dan mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Harta benda bisa saja membuat orang lain terkesan untuk sesaat, tetapi tak pernah menjadi inspirasi.

Hidup kita sangat penting. Pikiran dan hati (jiwa) kitalah yang sesungguhnya membuat kita bernilai (berharga). Jangan korbankan peran penting diri kita di dunia ini (untuk membantu dan menginspirasi sesama) dan menggantinya dengan kesibukan remeh-temeh mengumpulkan harta dan barang-barang yang bisa dibeli hanya dengan menggunakan sebuah kartu plastik (baca: kartu kredit).

Kita layak mendapatkan yang lebih baik. Suka cita, kebahagiaan, dan kepuasan batin seringkali tak kasat mata: cinta, harapan, perdamaian, dan hubungan (relationship). Dan semua itu tidak dijual di supermarket, mall, atau online shop, jadi tidak ada alasan untuk mencari kepuasan dan kebahagiaan di sana. Orang-orang yang hidupnya hanya sibuk mengumpulkan harta dan barang-barang tak akan pernah puas (merasa cukup). Mereka selalu menginginkan yang lain yang lebih baru, lebih cepat, atau lebih besar karena pada dasarnya harta dan barang-barang tak akan pernah bisa memuaskan hasrat hati kita yang paling dalam, yakni hasrat akan makna (significance), keutuhan (wholeness), serta kedamaian (peacefulness).

Mari kita selalu mengingat bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dilewatkan demi sekedar mengejar dan menumpuk harta dan barang-barang. Ada lebih banyak suka cita dan kebahagiaan dengan memilih mengejar “yang lebih baik” (better), daripada mengejar “yang lebih banyak” (more). Mengumpulkan amal baik, bukan harta benda.

Diterjemahkan (dengan perubahan seperlunya) dari:

http://www.becomingminimalist.com/your-life-is-too-valuable-to-waste-chasing-possessions/

Advertisements

Hujan dan Banjir: 1% Air, 99% Babad As-Samawati wal Ardh

Hujan dan Banjir: 1% Air, 99% Babad As-Samawati wal Ardh

Manusia itu pragmatis, apa yang menguntungkan buat dirinya ya itu yang benar. Tapi, meski dikesankan negatif, sifat pragmatis ini—dalam konteks yang tepat—bisa ‘berguna’ karena ia memungkinkan manusia bertindak selektif dan efisien dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai kepentingannya. Masak jadi manusia gak pragmatis sama sekali, ya gak bisa juga. Jaman sekarang semua perlu pragmatis. Mau beli nasi padang gak perlu susah-susah datang ke R.M Padang, cukup pakai aplikasi “GO-FOOD” nasi padang diantarkan sampai depan rumah; chatting sama teman lama tanya kabar ini itu, padahal ujung-ujunge mung utang duit—tanya kabar teman kalau ada perlunya saja; daripada bingung cari pekerjaan yang sesuai keinginan tapi gak dapat-dapat, ya sudah tawaran yang ada saja diterima meski sebenarnya agak berat hati, itung-itung daripada nganggur, toh gajinya lumayan. Hukum pragmatisme itu kontekstual, tergantung situasi, kadang boleh-boleh saja tapi bisa juga terlarang. Dalam dunia bisnis, pragmatisme ini adalah mahzab mainstream para pelaku bisnis. Korporasi agribisnis seperti perusahaan kelapa sawit bisa membuka lahan baru dengan cara yang mudah, murah, dan relatif aman: membakar hutan dan rawa! Mereka tidak ngurus asapnya, tidak mau tau binatang liar yang mati terbakar maupun yang terusir dari tanah kelahirannya sendiri, yang penting perusahaan dapat lahan untuk musim tanam berikutnya! Al-Fatihah!

Selain model pragmatisme di atas, masih ada varian pragmatisme yang lain. Pragmatisme jenis ini adalah yang mungkin paling samar dan tidak populer, baik dilihat dari sudut pandang hukum agama, moral/etika, maupun hukum kemasyarakatan. Hanya saja, meskipun samar dan tidak populer, tapi pragmatisme yang satu ini dampaknya lebih luas dan susah diprediksi. Saya ingin mengambil contoh sederhana, HUJAN dan BANJIR. Di Indonesia hujan menjadi hajatan rutin tahunan. Biasanya ia dijadwalkan turun antara Oktober sampai Maret. Puncaknya di peralihan akhir tahun ke awal tahun. Musim hujan itu artinya tandon air di langit mencek-mencek (sudah penuh) dan siap ditumpahkan mak byor—suka tidak suka air harus ditumpahkan karena mendung tidak punya pilihan lain kecuali wajib patuh kepada aturan langit, tidak peduli apapun kondisi yang sedang terjadi di bumi (mau presiden Amerika mantu atau Raja Arab lawatan ke Jakarta, kalau hujan ya hujan, banjir ya banjir). Singkat cerita, seperti yang sudah-sudah, hujan deras sehari semalam tanpa henti. Saking berlimpahnya air yang ditumpahkan malaikat Mikail a.s, akibatnya kali meluap dan satu kecamatan tiba-tiba berubah menjadi tambak (kolam ikan). Banjir sampai setinggi atap rumah. Warga diungsikan ke masjid-masjid, balai desa, dan tenda pengungsian; sementara rute-rute utama kendaraan dialihkan ke jalur lain, macet dimana-mana. Kapokmu kapan??!! Hujan mulai reda, air di kali tak lagi meluap, banjir mulai surut dan aktivitas masyarakat kembali seperti biasa, begitu seterusnya dan berulang setiap tahunnya. Puluhan tahun kebanjiran, selama itu pula nyaris tidak ada perlawanan sengit dari pemerintah dan warga terhadap banjir. Mereka sudah sepakat, setidaknya dalam level batin, bahwa “banjir itu punya waktunya sendiri, ia tahu kapan harus datang dan kapan harus pergi, tak perlu dirisaukan”. Akibatnya, selama puluhan tahun menghadapi banjir, pemerintah dan warga bersama-sama mulai membangun suatu sistem pertahanan berbasis pragmatisme samar: hujan dan banjir tidak memberi keuntungan apa-apa, yang ada malah nambah masalah, jadi tidak ada gunanya mengurusi banjir karena hanya buang-buang energi dan biaya. Menyelesaikan masalah banjir tidak (pernah) dilihat sebagai sebuah tugas yang harus dikerjakan secara sungguh-sungguh dan kontinyu—karena ia tidak mempunyai nilai—melainkan hanya beban tahunan yang ditanggapi sekedarnya saja.

Pragmatisme samar mengikuti kaidah “….. tidak masalah, yang penting saya senang”. Membuang bungkus rokok ke selokan ora masalah, yang penting saya bisa merokok bebas; membuang bungkus nasi goreng dan tas kresek ke kali gak ada masalah, yang penting saya bisa jualan nasi goreng; mbabati pohon di bantaran sungai sah-sah saja, yang penting saya bisa nanam padi. Kita terbiasa berpikir linear, ndelujur, memisahkan antara sebab-akibat seperti rel kereta api yang tidak ada titik temunya—menganggap bahwa antara banjir dengan isi pikiran dan perilaku kita sehari-hari tidak ada hubungannya sama sekali. Urusanku kuwi mung budhal kerjo, golek duit, banjir urusane pemerintah! Pragmatisme samar semacam ini sudah menjadi kultur di negara kita. Pemerintah sendiri dan sebagian (besar) wakil rakyat juga mempraktikannya, tapi dalam level yang berbeda. Kalau ada yang mau memakai ruang terbuka hijau di dekat kampus untuk didirikan mall ya monggo, yang penting bisa bayar uang sewanya. Warga penghuni bantaran sungai ci-embuh rek dihimbau supaya tidak membuang sampah ke kali, tapi pemerintah sendiri membiarkan mereka tinggal berdempetan di bantaran kali tanpa menyediakan instrumen kebijakan yang tepat sasaran serta program-program yang jelas dan berkelanjutan. Yo gak iso ta rek, yekopo sih. Warga yang tinggal di bantaran kali di kota-kota besar itu sumpek rumahnya tur sumpek pikirannya. Mereka perlu membuang kesumpekannya biar tidak stres, dan cara paling gampang ya dengan membuang sampah ke kali! Kalau sumpeknya masih belum hilang juga, bisa jadi mereka yang menjegurkan diri ke kali. Barangkali kita semua belum benar-benar memahami sampai meresap ke tulang sum-sum bahwa salah satu fakta paling signifikan di dunia ini adalah efek dari penggandaan (multiplication) dan pengulangan (repetition). Jika di satu desa hanya ada dua atau tiga orang saja yang punya kebiasaan membuang bungkus rokok dan tas kresek ke kali seminggu sekali, mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi, akan lain ceritanya jika penduduk di desa tersebut tiba-tiba semuanya kalap lalu membuang bungkus rokok dan tas kresek ke kali setiap hari, haqqul yaqin gak suwe sampah pasti numpuk dan aliran kali mulai tersumbat, kecuali jumlah penduduk desa tersebut hanya tiga orang.

Itu tadi yang diomongkan baru sebatas tradisi membuang sampah, belum lagi kalau harus membahas peran hutan sebagai pengendali banjir, sebagai “dewa bumi”. Jika banjir dilihat sebagai output, maka inputnya adalah hujan, sementara prosesnya secara sederhana bisa dilihat sebagai fungsi dari kali, hutan, dan tata ruang (kota). Dalam skala ekosistem yang lebih luas, fungsi hutan terkait dengan banjir adalah mirip seperti fungsi spons (sponge) super tebal: air hujan yang tumpah dari langit sebagian besar akan diserap dan disimpan di dalam tanah untuk jangka waktu tertentu dan akan dilepaskan (secara pelan tetapi kontinyu) sebagai mata air atau rembesan-rembesan air tanah. Warna hijau kebiruan yang biasa kita lihat di gunung-gunung dan perbukitan itu tidak hanya berfungsi menahan tumpahan air hujan supaya tidak langsung menghantam permukaan tanah lalu mengalir deras ke arah pemukiman penduduk atau nglunyur ke kali, tetapi juga menyimpan, mengatur, serta mendistribusikan air tanah secara efisien dan adil. Hutan itu ya direktur teknis ya manajer proyek yang merangkap sebagai engineer sekaligus operator. Ia memungkinkan berjalannya siklus air, memasok oksigen, regulator iklim mikro maupun makro, serta menyediakan hunian paling baik dan aman bagi rumah tangga ribuan satwa liar. Hutan adalah pelaku setia ajaran “rahmatan lil-alamiin” yang dimandatkan Tuhan kepadanya. Lalu, monggo dipikir sendiri bagaimana jadinya kalau spons tadi kita kikis, dikruweki, dibolongi, dibabat terus menerus? Kalau cuma dibabat seluas kandang ayam tidak ada masalah, tapi kalau mbabatnya seluas 700 kali lapangan bola dan itu dilakukan setiap hari, piye coba (bayangkan kepala gundul plonthos disiram air, ya bersih tidak ada air yang nyangkut di situ). Kalaupun mau dibabat semua juga tidak jadi soal, tapi apakah pemerintah dan korporasi-korporasi serakah itu mau bertanggung jawab atas perbuatannya? Kalaupun mau, apa mereka punya “kesaktian” menahan tumpahan air hujan, mencegah longsor, membendung banjir, menyediakan air bersih untuk jutaan warga serta mengairi ribuan hektar sawah, melembabkan udara dan mengatur naik-turunnya temperatur, serta menyediakan rumah bagi ribuan hewan liar? Alhamdulillah kalau tidak punya, artinya mereka tidak perlu bekerja lembur siang malam seumur hidup hanya untuk mengurusi persediaan dan distribusi air tanah.

Jadi saudara-saudara, manusia punya kecenderungan menganggap sesuatu itu tidak bernilai—meskipun sesuatu itu bisa jadi sangat vital dan menentukan kelangsungan hidupnya—jika sesuatu itu tidak dibuatnya sendiri, bisa diperoleh secara cuma-cuma alias gratisan serta tidak perlu bersusah-payah  mendapatkannya, apalagi jika sesuatu itu tersedia dalam jumlah yang melimpah secara terus-menerus (seakan-akan) tak terbatas. Saat ini kita hidup di zaman dimana apa yang sesungguhnya berguna terlihat biasa-biasa saja, bahkan dianggap tidak mempunyai nilai, sementara apa yang sesungguhnya tidak berguna kita raih dengan susah payah. Air hujan yang melimpah, sungai yang mengurat-nadi ke dalam kehidupan masyarakat, serta hutan tropis yang menghampar, semua itu adalah sebagian dari kenyataan yang tidak mempunyai tempat di hati kita. Akibatnya, kita tidak menghormatinya. Dan apa yang tidak kita hormati, tidak akan kita jaga. Tantangan berat pendidikan Indonesia adalah bagaimana mengasah serta mengasuh alam pikir dan kepekaan batin anak-anak serta generasi muda kita agar mampu melihat “hubungan-hubungan tersembunyi” antara dirinya sendiri- keluarganya-masyarakatnya dengan fenomena alam di sekitarnya. Harapannya, mereka bisa melihat mesin-mesin pembabat hutan di dalam kertas yang dipakainya untuk menulis, merasa mual ketika melihat aneka warna pakaian dipajang di mall, melihat deposit partikulat di dalam paru-paru warga pedalaman ketika ia melihat jutaan lampu menerangi kota tempat tinggalnya, atau ‘meramal’ datangnya banjir ketika melewati perbukitan yang gundul dan sungai yang tertutup sampah. Kalau mereka bisa dan terbiasa melakukannya, maka bibit-bibit pragmatisme samar tidak akan gampang bercokol di dalam hati anak-anak dan generasi muda kita.

Hanami (花見)

Hanami (花見)

24 April, 2012 @Katahira campus, Tohoku University

Karena teman saya ada kelas Kanji, sementara hari masih terlalu siang untuk pulang ke kos-kosan, akhirnya saya memilih jalan-jalan sendiri ke Katahira menggunakan bis kampus yang (entah kenapa) selalu datang dan pergi tepat waktu sesuai jadwal! (setau saya nyaris tak pernah telat lebih dari 5 menit). Perjalanan dari Kawauchi—tempat saya mengikuti kelas Bahasa Jepang—ke Katahira dengan menggunakan bis kampus membutuhkan waktu ±12 menit, tapi kalau jalan kaki bisa 40-50 menit atau bahkan satu jam lebih tergantung banyak faktor (ex: cuaca, umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan, uang, dkk).

Ngeeeeeeeng… ciiiiiiiiittt..!! (bis sampai di Katahira). Dan setiap kali sebelum keluar pintu bis, tak lupa saya mengucapkan “arigatou gozaimashita”..  biasanya si pak sopirnya bales “hai! itterashai”  <(^_^)

Salah satu bangunan utama di kampus Katahira.

Begitu keluar dari bis saya langsung menuju ke arah taman sambil bersiap-siap mengeluarkan HP untuk njepret sakura. Jumlah pohon sakura di kampus Katahira tidak begitu banyak, hanya berkisar puluhan, namun tetap saja sayang untuk dilewatkan mengingat kesempatan melihat sakura belum tentu datang dua kali.. Hehe. Oh iya, Katahira campus ini adalah salah satu dari lima kampus-nya Tohoku University, empat kampus yang lain: Kawauchi, Aobayama (tempat ane), Seiryo dan Amamiya. Oke, sekarang saatnya melihat sakura ..

Setau saya ini pohon sakura paling besar di Katahira, lokasinya di tengah taman dan paling sering dikunjungi orang untuk foto-foto.

Orang lain Hanami bareng-bareng, saya cuma bisa mengintip dari balik pohon (-_-)

Ada beberapa species sakura, salah satunya seperti foto di atas, warna bunganya putih-pink, tangkai bunganya menjuntai ke bawah (bisa dipakai untuk alternatif gantung diri) 

Ini jenis sakura yang warnanya paling mencolok: pink-kemerahan

Barangkali sakura jenis ini yang paling banyak terdapat di Jepang, cantik tho? Hehe..

Selain motret sakura, saya juga motret orang terutama anak-anak, karena mereka lucu (Kawai, kalau kata orang Jepang). Saya lihat banyak ibu-ibu membawa anaknya yang masih balita ditaruh di kereta dorong sambil berjalan mengelilingi taman. Ini dia salah satu balita yang saya temui lagi main-main berdua sama ibunya (yang masih kelihatan muda).. Wkwkwk..

Adek sama siapa?” .. sama mamah ..salam ke mamah ya (karo bisik-bisik) ..

Satu lagi ibu-ibu (muda) saya samperin—si ibu lagi duduk sendirian sambil ngeliatin kedua anak laki-lakinya yang tengah bermain kejar-kejaran. Sambil pasang gaya malu-malu saya mendekati si mbak (panggil mbak aja ya berhubung masih muda). “Sumimasen, sashin wa daijoubu desu ka?“, sambil nunjukin HP dan ngasih isyarat mau minta tolong difoto`in. Wkwkwk… bahasa Jepangku ngawurrr! tapi si ibu langsung paham, “Hai! daijoubu desu“. Setelah selesai foto-foto, lalu saya duduk di rerumputan ga begitu jauh dari tempat si mbak tadi. Begitu melihat saya ndelosor di rumput, si mbaknya langsung menawarkan ke saya untuk bergabung di tempatnya (sambil tangannya menunjuk ke plastik biru yang dipakainya untuk duduk). “Yo wes lah lumayan ono konco ngobrol”, pikir saya dalam hati. Hai dozo..“, kata mbaknya sambil menyodorkan kue ke saya (rejeki gak oleh ditolak!). Selanjutnya.. kami ngobrol ringan, sampai akhirnya si mbaknya tanya ke saya “Hitori de..? kanojo wa doko? Indonesiajin, Nihonjin desu ka..?” (Kok dewean ae, pacare ndek endi? arek Indonesia opo Jepang?). Kapok koen!!

Kakak-beradik, Yuijiro (kanan) dan Yohe (kiri) .. Kawai desu neeeeeeee ..

Hanami adalah momen yang indah bagi seluruh warga Jepang, terlebih bagi mereka yang merayakannya bersama kekasih hati, seperti kakek-nenek ini.

Kekalih mugi tansah pinaringan katentreman ..

IMG_0188a

Nampang dulu (^_^)v

Hanami (花見 => Hana: bunga; Mi: melihat)

“Hanami lebih dari sekedar berjalan-jalan sambil melihat sakura. Hanami adalah menjadi sakura itu sendiri ..”

Terima Kasih

Alhamdulillahirabbil`alamiin,

Setelah menunggu selama tujuh bulan sejak Agustus 2011, akhirnya Senin kemarin (1 April, 2012) saya dan teman-teman penerima beasiswa Monbukagakusho yang lain sampai di Jepang.  Apa yang saya inginkan telah saya dapatkan, dan meski usaha untuk mencapai keinginan ini berasal dari niat dan gerak tubuh saya, tapi jika tanpa izin dan pertolongan Allah swt. maka sulit rasanya untuk  bisa menerima bahwa perjuangan selama setahun terakhir ini (mulai dari mencari professor, mengirim berkas seleksi ke Kedubes Jepang, tes tulis dan wawancara, urusan dokumen, sampai persiapan keberangkatan ke Jepang) adalah suatu hal yang bisa saya lalui. Pertolongan Allah berupa-rupa macam dan bentuknya, tak mungkin bisa saya perinci satu-persatu (impossible!), beberapa diantaranya berupa kebaikan hati dan doa orang-orang terdekat, saudara dan teman-teman.

 

1. Bapak-Ibu dan keluarga di rumah

2. Mbak Zie dan Mumun, thanks pinjaman laptopnya

3. Novran, thanks udah mau nganterin ke stasiun

4. Himam, thanks pinjeman baju batiknya

5. Samsul Huda, thanks udah ngasih tumpangan tidur n nraktir makan

6. Mak nyong Hakim, mas Hakeeem.. makaaaan!! 😀

7. Lionk, thanks dah mau bantu ngambil dokumen ke Kedubes n ngirim ke Malang 🙂

8. Hanin, suwun wes gelem njalukno stempel nang Jurusan

9. Datun, mbak Awok .. suwun ya

10. Cak Mario, suwun sing wuaaakeh mas .. kapan-kapan impromptu maneh nang Paciran 🙂

11. Distra, suwun le .. ternyata kosmu cedak Gang Potlot

12. Bu. Umi, terima kasih bu, maaf malah merepotkan ..

13. Flow, suwun wes diterno nang omahe Bu. Umi n golek dasi batik ndek Margo City 🙂

14. Pak Ajis & istri, pak Nari, wong-wong kabeh sing ndek Pepen; Bu Darti, konco-konco kos KL-66 (bang Gandes, Samsul, Pak Dedik, Angga, Ucok, Amri, Aap, Tomy, dkk); tonggo-tonggo kabeh ndek Cerme; konco-konco SMA (Iwan, Wahyu, Ita, dkk); Titik, Budiman, Mona, Nana, Ainul, Kembar Atik-Anik, Pak Yoga, Bu. Atik, Pak Har, Mbak Nanik; teman-teman Monbusho 2012, dll.

 

Semoga kebaikan dan doanya dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Jika ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, jika ada takdir Tuhan kita ketemu lagi ..

 

Salam,

Shofie

*かぜをひきそう*

 

 

Ketinggalan Pesawat

Ketinggalan Pesawat

17 Februari, 2012

Hari ini, tepat dua tahun yang lalu, mestinya saya sudah tiba di rumah. Akan tetapi takdir berkata lain: saya harus rela ngemper di sebuah Bandara, 5333 kilometer dari rumah.

Rangkuman kronologis kejadiannya seperti berikut: 😀

  • Selasa, 30 Juni 2009: Alhamdulillah.. dapat email dari National Institute for Physiological Sciences, Okazaki, Jepang. Isinya pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi untuk mengikuti short-term visit di NIPS selama dua minggu 😀
  • Minggu, 8 November 2009: Berangkat ke negerinya Doraemon
  • Sabtu, 21 November 2009: Pulang ke negara tercinta 😀
  • Jumat, 12 Februari 2010: Balik lagi ke Jepang dalam rangka ikut seleksi Program Ph.D (Gagal mas bro :D)
  • Rabu, 17 Februari 2010: And the story begins..

Rabu, 17 Februari 2010

Lihat jam: 06.30 (waktu Jepang). Gelodak!! langsung ke kamar mandi, cuci muka sama sikat gigi. Ganti pakaian, beres-beres barang, tas, koper, sampah, dll. Emmm.. ada yang ketinggalan gak ya?? Gak ada! langsung turun tangga ke bagian administrasi dormitori kampus, nyerahin kunci kamar, pake sepatu trus buka pintu kaca depan. Sayonaraaaa mina san..!

Mishima Lodge (sisi sebelah kanan, kalau malam sereeeeem :D)

Ternyata teman saya sudah nunggu di depan, katanya sudah setengah jam(an) nunggu. Teman saya ini adalah adek angkatan waktu kuliah dulu. Namanya Dwi Wahyu Indriati, panggilannya Atik, dia studi Ph.D di NIPS sejak Oktober 2008 (kalau gak salah). Tanggal 5 Februari kemarin dia baru saja nikah 😀 Selamat ya Tik, semoga jadi keluarga sakinah n studinya bisa selesai tepat waktu..

Sambil setengah lari saya dan Atik menuju ke salah satu tempat pemberhentian bus terdekat. Katanya Atik, kalau jalan kaki ke stasiun kelamaan, waktunya gak nutut. Setelah nunggu akhirnya bus datang. Ngeeeeeng.. Ciiiiiit..!! bus tiba di depan stasiun Higashi Okazaki“. Sambil lari-lari saya ngikutin Atik ke arah loket karcis, lalu naik tangga menuju ruang tunggu kereta. Nah, ada yang unik di sini. Si petugas stasiun (kalau di Indonesia mungkin semacam satpam) selalu mengucapkan “Ohayo gozaimasu” (sambil agak menundukkan kepala) kepada setiap orang yang melewati pintu masuk untuk (berbaris) menunggu kereta. Setelah saya amati, ternyata si bapak ini terus saja mengucapkan Ohayo gozaimasu sejumlah orang yang datang ke stasiun (lha lek wonge kabehe 200, opo gak ngiler iku marine). Keren kan?

Higashi Okazaki (kayaknya ini bagian belakang stasiun, agak lupa) 😀

Perjalanan dilanjutkan ke Central Japan International Airport (Centrair), Nagoya. Lama perjalanan dari Higashi Okazaki ke Centrair sekitar 40-45 menit. Di dalam kereta saya ga bisa santai, yang ada dalam pikiran cuma bayangan pesawat Japan Airlines (JAL) yang sudah siap-siap mau take-off. Jadwal penerbangan saya jam 08.45, sementara jam 08.00 saya masih di dalam kereta (baru 10 menit perjalanan, masih ada 30 menit lagi). Akhirnya sampai di bandara, dan perasaan saya makin gak karuan. Sambil lari saya melirik ke arah jam yang tergantung di dinding (08.35). Allahu Akbar! saya berlari makin cepat, menyerobot lalu-lalang orang-orang di sepanjang jalan menuju pintu masuk airport (minggir.. minggir.. barang atos whoiiiii). Kasihan Atik, dia juga ikut lari-lari sambil membawakan sebagian barang bawaan saya (seru kan Tik? hehe).

Saya dan Atik masih panik, kebingungan mencari lokasi lobi keberangkatan. Masih terus berlari-lari kesana kemari sambil tengok kanan-kiri (koyok wong ilang), lalu ada mbak cantik (pramugari) yang menghampiri kami sambil menanyakan sesuatu. Begitu si mbak melihat e-ticket yang dipegang Atik, saya bisa melihat dengan jelas respon terkejut di wajahnya. Mbaknya langsung berlari sembari memberikan isyarat ke kami untuk mengikutinya (mlayu maneeeeeh). Tak lama kemudian kami sampai di loket pemeriksaan tiket (check-in counter). Satu lagi mbak cantik (staf JAL) datang menghampiri kami sambil melihat e-ticket yang dipegang Atik, “hikôki mo chotto..”, begitu kata si mbaknya (sambil mengisyarakatkan pake tangan kalau pesawat saya baru saja take-off). Apppaaahh?!! seketika itu saya panik dan cemas tapi tidak sepanik waktu turun dari kereta. Staf JAL yang ada di bagian konter meminta e-ticket saya, dia bilang akan mencoba mencarikan penerbangan yang lain ke Jakarta. Teman saya sempat was-was kalau saya bakal diminta membayar biaya tambahan untuk tiket yang baru. Alhamdulillah aman! Kata mbaknya, saya sudah dibooking-kan kursi kosong untuk penerbangan Tokyo-Jakarta tapi sayangnya jadwal penerbangan ke Jakarta hanya ada satu kali keberangkatan/hari. Horeeeee, saya ga jadi pulang 😀

Setelah diberi e-ticket baru oleh staf JAL dan dikasih tau bahwa jadwal penerbangan saya diganti keesokan harinya (18 Februari 2010, jam 08.45), saya agak lega. Lalu saya dan Atik berjalan menepi mencari tempat duduk untuk melepas lelah (asli awak rasane koyok digepuki wong sak kampung, pegel campur lemes). Saya bilang ke Atik kalau saya tidur di Airport saja, gak masalah. Dia menawarkan ke saya untuk tidur di apartemen temannya, atau kalau mau bisa mencoba putar balik ke Okazaki nginep di laboratoriumnya sensei. Whattt?! Semalam sebelumnya saya sudah pamit pulang ke sensei dan teman-teman di laboratorium, kan gak lucu kalau tiba-tiba saya datang lagi ke laboratorium bawa koper dan bangkelan sambil tertunduk lesu, “maaf saya ketinggalan pesawat, apa saya bisa tidur di lab malam ini??”  😦

Di Airport saya ditemani Atik sampai jam 3(an) sore: jalan-jalan ke laut, keliling airport, ditraktir makan dan dibelikan Tokyo Banana.. hehe (suwun tik, engko ganti tak traktir godo gedhang). Jam 15.00 Atik balik ke Okazaki .. Saya pun lontang-lantung sendirian di airport, karena merasa masih kecapekan setelah lari-lari tadi, saya tidur di kursi panjang di salah satu sudut ruangan. Tas dan barang-barang bawaan saya titipkan di brankas penitipan (bayar pake koin). Tak terasa sudah malam. Perut lapar. Saya jalan-jalan cari makan, sambil jepret-jepret kanan kiri pake HP tercintah (Sony Ericsson W880i).

Jam 21.00 bandara sudah mulai sepi, lampu di lobi-lobi utama dan ruang tunggu sudah mulai dipadamkan. Saya pindah ke ruangan khusus yang disediakan bagi penumpang yang terpaksa menginap di bandara karena suatu hal (mungkin penundaan jadwal keberangkatan pesawat). Ruangannya tidak terlalu besar, ada kantin kecil dan beberapa kursi panjang untuk tidur. Saya lihat di ruangan sebelah ada beberapa orang lagi cangkruk sambil minum bir, juga segerombolan pramugari dan pilot berjalan melewati ruangan tunggu menuju hotel Centrair. Februari adalah musim dingin, anginya kenceng banget. Saya sampe menggigil kedinginan, padahal kondisi ruangan cukup tertutup dan saya sudah memakai jaket. Pas enak-enak tidur, tiba-tiba saya dibangunkan oleh dua orang petugas keamanan bandara (semacam satpam lagi). Pak satpam ini meminta saya menunjukkan paspor dan visa. Setelah dilihat-lihat, mereka mengembalikan paspor saya dan mengajukan beberapa pertanyaan ‘aneh’ seputar agama (SARA wong iki!). Seingat saya, mereka bertanya apakah saya mengetahui lokasi masjid di Nagoya, apakah saya pernah ke sana, apa yang saya lakukan selama di Okazaki, bagaimana saya beribadah selama di Okazaki, berapa kali saya beribadah (sholat) dalam sehari, bla.. bla.. (minggatooooo..!) 😀

Lha kok wes isuk.. jam 05.30 saya menuju brankas penitipan barang untuk mengambil tas dan barang-barang bawaan. Lalu ke toilet cuci muka dan gosok gigi. Fressshhh! Pesawat baru berangkat jam 08.45, jadi masih 2,5 jam lagi menunggu. Saya gunakan 2,5 jam ini untuk melihat-lihat pesawat dari atas balkon bandara sambil jepret-jepret 😀

dsc01605.jpg

Jam 08.30 saya sudah di ruang tunggu untuk boarding pass dan bersiap-siap meninggalkan Nagoya. Sebenarnya cerita masih berlanjut di Narita, Tokyo, tapi ga penting.. Hehe. Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan 6 jam Tokyo-Jakarta, lalu transit di Jakarta selama 4 jam sebelum berangkat ke Surabaya, akhirnya saya sampai di rumah jam 00.00 (sekitar jam 12 malam). Alhamdulillah..

Catatan:

20 Oktober 2009tiga bulan sebelum kejadian ini (ngemper di bandara)saya mendapatkan email dari sekretarisnya sensei di NIPS, namanya Reiko Kimura. Ia memberitahukan bahwa nanti pada tanggal 8 November 2009, yakni setibanya saya di Centrair, saya diminta menginap di Comfort Hotel Centrair (kamar sudah dipesankan). Saya mengirimkan email balasan ke Ms. Reiko Kimura, isinya menolak secara halus untuk menerima fasilitas tidur di hotel, saya ingin tidur di bandara saja (jika diijinkan oleh pihak NIPS). Keesokan harinya saya mendapat email balasan dari Ms. Reiko Kimura, ia mengatakan bahwa fasilitas yang saya peroleh (menginap di hotel) sudah menjadi protokol (ketentuan) dari NIPS, jadi saya diminta untuk mengerti dan menerimanya. Karena aturannya seperti itu, ya sudah saya terima.

12 Februari 2010 saya balik lagi ke Jepang untuk yang kedua kalinya dalam rangka mengikuti ujian masuk universitas. Tanpa saya duga sebelumnya, ternyata keinginan saya untuk tidur di bandara dulu dikabulkan. Menurut jadwal, tanggal 17 Februari 2010 saya sudah harus pulang ke Indonesia, akan tetapi takdir berkata lain: saya bangun kesiangan, ketinggalan pesawat, akhirnya tidur di bandara  😀

Earth from Above

Earth from Above

Hardisk saya sudah hampir penuh. Ada tiga volume (partisi), masing-masing sekitar 100GB. VOLUME 1 isinya dokumen, lagu, Podcast (audiobook) dan film kartun-animasi. VOLUME 2 hampir semua space diisi film-film dokumenter produksi BBC, National Geographic, History Channel, dll. VOLUME 3 isinya khusus film-film layar lebar (layar sempit tidak ada) :p

Saya memang suka umpul-umpul film, khususnya film dokumenter yang bertema Nature & Biodiversity. Sayangnya kegemaran umpul-umpul ini kurang diimbangi dengan kemampuan menonton yang rutin. Istilahnya bukan penonton yang produktif, Hehe. Kira-kira seminggu hanya nonton 1-2 film, paling banter 3 film. Tak jadi soal, buat saya nonton film itu hukumnya mubah, tapi kalau download (film) hukumnya mendekati sunnah (sanad hadis terputus) 😀

Kemarin sore saya menonton film dokumenter Earth from Above, episode “Life”. Film ini saya download dengan agak susah payah, maklum kualitas BluRay (4.39GB). Pertama kali tau film ini dari nonton di MetroTV dua tahun yang lalu, waktu itu menayangkan episode tentang pencemaran limbah plastik (harusnya MUI bikin fatwa “konsumsi tas kresek = makruh!”). Karena menurut saya filmnya keren banget, wajar kan kalau saya kepingin punya nih film 😀 Saya sudah coba browsing di internet tapi belum ketemu versi bahasa Inggrisnya, yang ada cuma versi bahasa Perancis dan Turki tanpa subtitle (gondrong). Saya juga sudah cari ke DiscTarra di Gramedia kota Malang tapi tidak ada 😦  Baru sekitar akhir tahun lalu saya dapat yang versi bahasa Inggris dalam format BluRay (durasi 90 menit). Kayaknya edisi BluRay ini tidak sama dengan yang pernah ditayangkan di MetroTV dulu. Setau saya untuk edisi BluRay terdiri dari tiga episode (Life, Stunning Water, dan Amazing Land), sementara yang ditayangkan di MetroTV sepertinya versi serial televisi. Saya sendiri baru punya yang episode Life, untuk episode Stunning Water sedang dalam proses download 😀

Earth from Above (judul aslinya La Terre vue du Ciel) merupakan karya seorang fotografer ternama dunia asal Perancis, Yann Arthus-Bertrand (situs resminya bisa dilihat di sini). Film ini bagus banget! Menyajikan dengan sangat menawan sejumlah gambaran bentang alam (Kenya, Brazil, China, Tasmania, Arktik) beserta ekosistemnya yang amat menakjubkan. Rasanya happy sekali bisa melihat hutan hujan tropis yang lebat, Singa-singa yang gemuk di padang sabana di Afrika, induk Gajah dan bayinya, migrasi ribuan Banteng dari Tanzania ke Kenya,  Kuda Nil yang mengumpulkan bangkai-bangkai Banteng yang mati saat menyebrangi sungai, lalu ikan-ikan yang berenang membuntuti Kuda Nil sambil memunguti kotoran di kulit tubuh si Kuda Nil, Beruang Kutub dengan bulu putih yang lebat dan lembut (digawe kasur ketoke enak), anak-anak SD di Kenya yang berjalan menyusuri hutan untuk belajar mengenali kekayaan hutan mereka, dan masih banyak lagi yang lain.

Screenshot film Earth from Above: Migrasi Banteng dari Tanzania ke Kenya (kelihatannya seru, yang pingin gabung silahkan datang ke Tanzania) 😀

   Screenshot film Earth from Above: Mr. Yann Arthus-Bertrand (kiri) bercakap-cakap dengan kawan lamanya Mr. Jonathan Scott, fotografer sekaligus Zoologist (kelihatannya singa-singa di atas akrab dan jinak, bisa untuk pacuan singa gak ya?) 🙂

Screenshot film Earth from Above: Mr. Yann Arthus-Bertrand sedang mewawancarai Mr. Jamari, sesepuh masyarakat lokal di sekitar Danau Victoria, Kenya

Screenshot film Earth from Above: Masyarakat Yunyang, China sedang menanam Artemisia, tanaman obat untuk penyakit malaria (bisa untuk obat penyakit galau gak ya? soalnya lagi musim di Indonesia) 😀

Screenshot film Earth from Above: Gunung Es di Kutub Utara, banyak yang mulai runtuh (pecah) akibat pengaruh peningkatan suhu bumi (gunung es ini aman didaki karena tidak bisa meletus) 😀

Yang namanya hidup, ya ada sukanya ya ada dukanya. Melihat film ini, tidak cuma senang tapi juga harus bersedia menanggung perasaan nelongso (sedih). Melihat hutan dibakar untuk dijadikan lahan perkebunan dan industri, Kuda Nil dibunuh, Harimau diburu, anak Gajah yang ditinggal mati induknya karena dibunuh, spesies tanaman obat yang mulai punah, Beruang Kutub yang habitatnya terancam hilang—global warming menyebabkan gunung es di kutub mulai mencair. Setiap kali melihat film dokumenter atau berita semacam ini, saya berusaha menghibur diri dengan berbaik sangka bahwa semua hal (kejadian) adalah untuk yang terbaik, bukankah semua terjadi atas izin Tuhan?

BENAR, tapi

Pertanyaannya, hal (ter)baik macam apakah yang untuk memperolehnya mesti dengan cara-cara yang tidak baik bin aneh dan ugal-ugalan: membabat hutan, mengikis gunung, membakar jutaan ton batu bara, mengeringkan lahan basah, menguras minyak dan mengeruk emas sampai tak tersisa, merusak tanah serta mencemari air dengan limbah dan racun?!! Pasti ada yang tidak beres dengan cara berpikir dan sikap hidup kita, baik sebagai individu maupun masyarakat. Menurut saya hikmah dari ketidakberesan ini adalah agar kita semuakhususnya pemerintah, politisi, birokrat, konglomerat, perusahaan, korporasitidak lagi meneruskan cara pandang dan sikap hidup (politik pemerintahan, kebijakan) yang tidak baik. Bukankah sesuatu yang diizinkan Allah terjadi belum tentu diridhai Nya?

Itulah kenapa kita diperingatkan bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubahnya”. Saya pernah baca bukunya KH. Mustofa Bisri (punya teman, namanya Himam) judulnya “Membuka Pintu Langit”, bahwa ayat tersebut bisa juga dimaknai sebaliknya: Allah telah menentukan segala sesuatunya itu baik bagi manusia, tapi manusia sendirilah yang kemudian mengubah tatanan (ketentuan) itu sehingga berakibat buruk bagi mereka sendiri. Pemahaman ini sesuai dengan QS. An-Nisa: 79, ”Semua kebaikan datangnya dari sisi Allah dan semua keburukan datangnya dari dirimu sendiri”.

Melihat film Earth from Above, saya diingatkan bahwa status kita sebagai manusia modern tak sedikitpun mengubah sebuah kebijaksanaan kuno: manusia dan alam adalah satu kesatuan tak terpisahkan.

Shalawat Tarhim: Dari Mesir ke Surau di Dekat Rumah

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk ..

Yâ imâmal mujâhidîn ..

 

Video di atas adalah lantunan Shalawat Tarhim yang biasa kita dengar dari pengeras suara di masjid-masjid atau musholla sebelum adzan subuh (Ngerti kan bro?? mangkane tah ojok turu ae lek subuh, pantes gak ngerti :D). Shalawat ini sangat populer di kalangan masyarakat muslim Indonesia, khususnya yang tinggal di desa-desa atau pinggiran kota di Jawa Timur. Di tempat saya sendiri (Kecamatan Cerme, Gresik) shalawat ini masih rutin ‘dipakai’ sampai sekarang. Gak tau kapan kadaluarsanya 😀

Sekilas tentang Shalawat Tarhim

Menurut investigasi Mr. Google, shalawat ini pertama kali dipopulerkan di Indonesia melalui Radio Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat), Surabaya pada akhir tahun 1960’an. Penciptanya adalah Shaykh Mahmoud Khalil Al Hussary, ketua Jam’iyyatul Qurro’ di Kairo, Mesir. Bagaimana asal mula ceritanya shalawat tarhim ini akhirnya bisa sampai ke musholla di dekat rumah saya? Menurut Cak Nun Syaikh Al Hussary pernah berkunjung ke Indonesiamisi belum diketahui, mungkin dalam rangka study tourdan beliau ‘dibajak’ di Lokananta, Solo untuk rekaman shalawat tarhim ini. Demikian sekilas info 🙂

Syaikh Mahmoud Al-Hussary (1917-1980, محمود خليل الحصري) adalah ulama lulusan Universitas Al-Azhar dan merupakan salah satu Qâri’  (pembaca Quran) paling ternama di jamannya, sampai-sampai ia digelari Shaykh al-Maqâri (sing ahli qiroah). Syaikh Al-Hussary dikenal karena kepiawaiannya dalam membaca Qur’an secara tartîl. Ia mengatakan bahwa membaca Qur’an bukan semata-mata tentang irama (lagu) atau seni bacaannya, yang paling penting adalah tartîl: memahami bacaan Qur’an dengan baik dan benar, yaitu melalui studi kebahasaan (linguistik) dan dialek Arab kuno, serta penguasaan teknik pelafalan huruf maupun kata-perkata dalam Quran. Dengan begitu bisa dicapai tingkat kemurnian (keaslian makna) yang tinggi dalam membaca Al-Qur’an.

Pantes saja setiap kali dengar shalawat tarhim bawaannya pengen meweks mulu.. jadi ingat kezuhudan, kemurah hatian dan kemuliaan akhlak Nabi (T__T). Menurut saya shalawat tarhim adalah salah satu karya terbaik Syaikh Hussary, buktinya sampai sekarang masih eksis diputar di masjid-masjid dan musholla di pelosok Indonesia. Shalawat ini selalu berhasil mengingatkan saya bahwa tak berguna sama sekali yang namanya sombong, riya’ dan kekayaan duniawi jika dibandingkan dengan keteguhan iman serta keikhlasan hati dalam mentaati perintah Nya (memang tak mudah, tapi harus diniatkan dan diupayakan sekuat tenaga). Cak Nun pernah membahas secara khusus tentang shalawat tarhim ini dalam sebuah pengajian, beliau juga mbrebes mili waktu membacakannya (bisa dilihat di sini).

Video qiraah Syaikh Al-Hussary di Masjid Namirah, Mekkah (1958)

Bagi saya shalawat tarhim karya Syaikh Al-Hussary memang khas, sangat berkesan dan enak sekali didengar. Khas karena shalawat ini identik dengan suasana subuh, dan (mungkin) hanya populer di Indonesia; berkesan karena mengingatkan saya kepada beberapa hal:

  • Surau (langgar) di depan rumah lama saya, namanya “Darussalam”. Di surau ini saya mulai belajar membaca Al-Qur’an dan Tajwid.
  • Bulan Puasa (Ramadhan), terutama saat makan sahur. “Poro bapak poro ibu monggo enggal-enggal sahur sakmeniko imsak kirang 10 jam” 😀
  • Nenek saya yang dulu sering membangunkan saya (waktu masih kecil) untuk sholat subuh berjamaah di surau depan rumah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya serta memberinya tempat yang lapang di sisiNya. Amiin.
  • Kisah hidup dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad saw. Shalawat tarhim ini berisi pujian kepada Nabi, lirik dan irama bacaannya sangat indah dan menyentuh hati.

 

 Lirik shalawat tarhim:

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh
Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în

(untuk teks Arabnya bisa dilihat di sini):

Arti (terjemahan) shalawat tarhim:

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke Sitratul Muntaha karena kemuliaanmu
Dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.

(file mp3 shalawat tarhim bisa didownload di sini):

Kesimpulan:

Shalawat tarhim ini enak didengarkan kapan saja, menurut saya yang paling enak pas malam hari atau menjelang subuh. Manfaat yang didapat dari mendengar shalawat tarhim, selain membangkitkan keterikatan emosional antara diri kita dengan Nabi saw, menenangkan pikiran yang jenuh dan hati yang kalut, juga bisa sebagai tombo kangen keluarga di rumah (di desa, kampung) dan orang-orang tercinta yang sudah tiada.