Earth from Above

Hardisk saya sudah hampir penuh. Ada tiga volume (partisi), masing-masing sekitar 100GB. VOLUME 1 isinya dokumen, lagu, Podcast (audiobook) dan film kartun-animasi. VOLUME 2 hampir semua space diisi film-film dokumenter produksi BBC, National Geographic, History Channel, dll. VOLUME 3 isinya khusus film-film layar lebar (layar sempit tidak ada) :p

Saya memang suka umpul-umpul film, khususnya film dokumenter yang bertema Nature & Biodiversity. Sayangnya kegemaran umpul-umpul ini kurang diimbangi dengan kemampuan menonton yang rutin. Istilahnya bukan penonton yang produktif, Hehe. Kira-kira seminggu hanya nonton 1-2 film, paling banter 3 film. Tak jadi soal, buat saya nonton film itu hukumnya mubah, tapi kalau download (film) hukumnya mendekati sunnah (sanad hadis terputus)😀

Kemarin sore saya nonton film dokumenter Earth from Above, episode “Life”. Film ini saya download dengan agak susah payah, maklum kualitas BluRay (4.39GB). Pertama kali tau film ini dari nonton di MetroTV dua tahun yang lalu, waktu itu menayangkan episode tentang pencemaran limbah plastik (harusnya MUI bikin fatwa “konsumsi tas kresek = makruh!”). Karena menurut saya filmnya keren banget, wajar kan kalau saya kepingin punya nih film😀 Saya sudah coba browsing di internet tapi belum ketemu versi bahasa Inggrisnya, yang ada cuma versi bahasa Perancis dan Turki tanpa subtitle (gondrong). Saya juga sudah cari ke DiscTarra di Gramedia kota Malang tapi tidak ada :(  Baru sekitar akhir tahun lalu saya dapat yang versi bahasa Inggris dalam format BluRay (durasi 90 menit). Kayaknya edisi BluRay ini tidak sama dengan yang pernah ditayangkan di MetroTV dulu. Setau saya untuk edisi BluRay terdiri dari tiga episode (Life, Stunning Water, Amazing Lands), sementara yang ditayangkan di MetroTV sepertinya versi serial televisi. Saya sendiri baru punya yang episode Life, untuk episode Stunning Water sedang dalam proses download😀

Earth from Above (judul aslinya La Terre vue du Ciel) merupakan karya seorang fotografer ternama dunia asal Perancis, Yann Arthus-Bertrand (situs resminya bisa dilihat di sini). Film ini bagus banget! Menyajikan dengan sangat menawan sejumlah gambaran bentang alam (Kenya, Brazil, China, Tasmania, Arktik) beserta ekosistemnya yang amat menakjubkan. Rasanya happy sekali bisa melihat hutan hujan tropis yang lebat, Singa-singa yang gemuk di padang sabana di Afrika, induk Gajah dan bayinya, migrasi ribuan Banteng dari Tanzania ke Kenya,  Kuda Nil yang mengumpulkan bangkai-bangkai Banteng yang mati saat menyebrangi sungai, lalu ikan-ikan yang berenang membuntuti Kuda Nil sambil memunguti kotoran di kulit tubuh si Kuda Nil, Beruang Kutub dengan bulu putih yang lebat dan lembut (digawe kasur ketoke enak), anak-anak SD di Kenya yang berjalan menyusuri hutan untuk belajar mengenali kekayaan hutan mereka, dan masih banyak lagi yang lain.

          Screenshot film Earth from Above: Migrasi Banteng dari Tanzania ke Kenya           (kelihatannya seru, yang pingin gabung silahkan datang ke Tanzania)😀

   Screenshot film Earth from Above: Mr. Yann Arthus-Bertrand (kiri) bercakap-cakap dengan kawan lamanya Mr. Jonathan Scott, fotografer sekaligus Zoologist (kelihatannya singa-singa di atas akrab dan jinak, bisa untuk pacuan singa gak ya?)🙂

Screenshot film Earth from Above: Mr. Yann Arthus-Bertrand sedang mewawancarai Mr. Jamari, sesepuh masyarakat lokal di sekitar Danau Victoria, Kenya

Screenshot film Earth from Above: Masyarakat Yunyang, China sedang menanam Artemisia, tanaman obat untuk penyakit malaria (bisa untuk obat penyakit galau gak ya? soalnya lagi musim di Indonesia)😀

Screenshot film Earth from Above: Gunung Es di Kutub Utara, banyak yang mulai runtuh (pecah) akibat pengaruh peningkatan suhu bumi (gunung es ini aman didaki karena tidak bisa meletus)😀

Yang namanya hidup, ya ada sukanya ya ada dukanya. Melihat film ini, tidak cuma senang tapi juga harus bersedia menanggung perasaan nelongso (sedih). Melihat hutan dibakar untuk dijadikan lahan perkebunan dan industri, Kuda Nil dibunuh, Harimau diburu, anak Gajah yang ditinggal mati induknya karena dibunuh, spesies tanaman obat yang mulai punah, Beruang Kutub yang habitatnya terancam hilang—global warming menyebabkan gunung es di kutub mulai mencair. Setiap kali melihat film dokumenter atau berita semacam ini, saya berusaha menghibur diri dengan berbaik sangka bahwa semua hal (kejadian) adalah untuk yang terbaik, bukankah semua terjadi atas izin Tuhan?

BENAR, tapi

Pertanyaannya, hal (ter)baik macam apakah yang untuk memperolehnya mesti dengan cara-cara yang tidak baik bin aneh dan ugal-ugalan: membabat hutan, mengikis gunung, membakar jutaan ton batu bara, mengeringkan lahan basah, menguras minyak dan mengeruk emas sampai tak tersisa, merusak tanah serta mencemari air dengan limbah dan racun?!! Pasti ada yang tidak beres dengan cara berpikir dan sikap hidup kita, baik sebagai individu maupun masyarakat. Menurut saya hikmah dari ketidakberesan ini adalah agar kita semuakhususnya pemerintah, politisi, birokrat, konglomerat, perusahaan, korporasitidak lagi meneruskan cara pandang dan sikap hidup (politik pemerintahan, kebijakan) yang tidak baik. Bukankah sesuatu yang diizinkan Allah terjadi belum tentu diridhai Nya?

Itulah kenapa kita diperingatkan bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubahnya”. Saya pernah baca bukunya KH. Mustofa Bisri (punya teman, namanya Himam) judulnya “Membuka Pintu Langit”, bahwa ayat tersebut bisa juga dimaknai sebaliknya: Allah telah menentukan segala sesuatunya itu baik bagi manusia, tapi manusia sendirilah yang kemudian mengubah tatanan (ketentuan) itu sehingga berakibat buruk bagi mereka sendiri. Pemahaman ini sesuai dengan QS. An-Nisa: 79, ”Semua kebaikan datangnya dari sisi Allah dan semua keburukan datangnya dari dirimu sendiri”.

Melihat film Earth from Above, saya diingatkan bahwa status kita sebagai manusia modern tak sedikitpun mengubah sebuah kebijaksanaan kuno: manusia dan alam adalah satu kesatuan tak terpisahkan.

10 responses to this post.

  1. mesti premium😛

    Reply

  2. Posted by himamhqq on February 14, 2012 at 8:56 pm

    aku jaluk..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: