The Smiling Chickpea

The Smiling Chickpea, kacang polong yang tersenyum (^_^).

Saya pernah membaca sebuah tulisan karya Annemarie Schimmel (sarjana Muslim  kenamaan asal Jerman), dimana ia menuturkan dengan sangat menawan  kisah tentang kacang polong (chickpea) yang merupakan salah satu Bab dalam Matsnawi karya Rumi.

Inti ceritanya begini: suatu hari kacang polong dan teman-temannya (dari klan sayur-sayuran) sedang direbus dalam air mendidih untuk dimasak. Diceritakan bahwa kacang polong dan kawan-kawannya mengeluh kepanasan sambil meloncat-loncat mencoba keluar dari periuk—namun apa daya, ukuran periuk cukup besar untuk si kecil chickpea bisa lolos dari kehendak Sang Juru Masak. Namun, si Ibu (nickname dari Sang Juru Masak) menjelaskan dengan sabar dan penuh kasih kepada kacang polong dkk bahwa mereka harus menjalani ujian ini (direbus dalam periuk) untuk beberapa saat. Karena, setelah tumbuh berbahagia bermandikan ‘hujan dan sinar matahari  kemurah-hatian’ Tuhan, kini mereka harus merasakan pula ‘api ujian’ dari Nya. Begitu sudah benar-benar matang dan terasa lunak (lembut), berarti mereka sudah siap disajikan sebagai hidangan yang lezat bagi manusia, dan dengan demikian bisa mencapai kedudukan yang lebih tinggi pada tangga makhluk.

Kisah chickpea yang lucu ini menurut saya masih dan akan selalu relevan untuk dijadikan sebagai perumpamaan (metafor) maupun pengingat (reminder) atas semua kejadian yang telah, sedang dan akan kita alami di kemudian hari, terutama kejadian-kejadian yang sifatnya tidak mengenakkan (ujian). Kalau dipiki-pikir rasanya 1/2 tidak percaya juga bahwa ternyata kita bisa bertahan sampai sejauh ini. Lha gimana setengah ga percaya, bahkan sebelum menjadi bayi pun kita sudah harus ‘berjuang’ mati-matian, bertanding dengan jutaan bahkan miliaran saudara-saudara kita sendiri (baca: sperma) demi memperebutkan sebuah kedudukan terhormat: “manusia”. Tak cukup sampai di situ, untuk menjadi manusia dewasa si bayi harus melewati serangkaian proses dan ujian: penglihatan yang masih buram, tidak diijinkan berbicara dengan lancar dan jelas (hanya bisa menangis), lapar, demam, berjalan dengan merangkak, jatuh dari ayunan, dan harus basah karena kencing sendiri (ngompol). Berikutnya ujian lebih berat lagi: si anak diharuskan menghafal pelajaran sekolah, menulis, belajar berhitung, jatuh dari sepeda, berkelahi, kaki kena paku, dihukum di depan kelas, dijewer emak; dan jika bapaknya adalah seorang peternak ayam, biasanya si anak harus ikut membersihkan kandang ayam (resikonya tai ayam nyangkut di kaki). Semakin bertambah umur, semakin bertambah pula ragam ujian. Maka kali ini ujian lebih keras dan lebih aneh dari sebelum-sebelumnya: tidak hanya tugas sekolah dan kuliah, tapi juga harus sakit hati karena putus cinta (suit suit!); jauh dari orang tua karena harus menuntut ilmu di kota orang, mencuci baju sendiri, dompet hilang, terpaksa jual koran atau ngamen untuk tambahan bayar SPP, berurusan dengan polisi (kena tilang, nabrak orang), opname karena sakit, bingung cari uang buat bayar kos (udah nunggak setahun), dimarahi dosen habis-habisan, stress mikir skripsi/ kerjaan, belum lagi ditambah acara-acara tv super horor: berita kriminal, korupsi, bom bunuh diri, perang, banjir; sinetron & infotaiment alay; plus ratusan iklan pemicu hipertensi, obesitas, dan psikotik. Oh oh oh ..

Saat ini usia saya 28 tahun, dan bagi saya bisa bertahan selama kurang lebih 10.000 hari tanpa pernah terpikir menyesali hidup (malah justru memilih untuk menyambut hidup) adalah sesuatu banget .. Hehe. Saya percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian (cobaan) melebihi kadar kemampuan hambanya: inilah alasan mengapa kita bisa bertahan sampai sejauh ini. Jika kita menerawang jauh ke belakang sampai pada satu titik waktu (moment) saat kita masih bayi, sementara pada saat yang bersamaan kita mendapati bahwa si bayi tersebut kini telah tumbuh besar menjadi seorang laki-laki/ perempuan dewasa, maka hal ini sudah cukup menjadi bukti nyata bahwa (pertolongan) Tuhan itu sesungguhnya amat dekat—saking dekatnya sampai-sampai tak terlihat oleh kita. Tanpa pertolongan semacam itu (yang amat dekat, seringkali tersembunyi) barangkali sebagai manusia kita sudah gulung tikar (digulung pakai tikar) sejak dulu. Dalam tiap ujian yang diberikan Tuhan kepada kita, ada maksud-maksud tertentu yang hendak Ia terangkan. Setidaknya maksud tersebut terkait dengan dua hal, yaitu: Pertama, ujian sebagai sarana belajar dan pendewasaan bagi jiwa manusia. Kedua, dengan memberikan ujian kepada hamba-hamba Nya, Tuhan hendak memperlihatkan kepada kita akan Kebesaran serta sifat Pengasih Nya. Dengan kata lain, manusia perlu diuji agar mereka mengerti bahwa Tuhan Maha Penolong. Seperti yang dituturkan Rumi: seorang tukang roti tidak suka melihat orang lapar, tetapi dia menghendaki orang yang membutuhkan roti supaya dia dapat menunjukkan kecakapannya memenuhi kebutuhan orang akan roti.

Membaca kisah chickpea, kita bisa melihat bahwa dunia dan kehidupan ini—dimana kita berada di dalamnya—seperti periuk besar yang disediakan oleh Tuhan untuk ‘memasak’ jiwa-jiwa manusia agar menjadi matang dan lembut. Dalam bahasa kaum sufi, ujian (masalah) ibarat gula dan garam yang diperlukan oleh jiwa agar ia menjadi manisan seperti kembang gula, atau asinan yang gurih. Ingat! ini hanya metafor, jadi jangan mengira dengan banyak makan gula dan garam bisa membuat jiwa menjadi lebih manis dan gurih, yang ada malah kena komplikasi diabetes dan hipertensi.

Sampailah saya di penghujung pembuka, blog ini saya beri nama “the-smiling-chickpea” dengan harapan agar saya dan teman-teman pembaca dapat mengambil manfaat dari sekelumit kisah chickpea di atas. Di akhir siklus hidupnya chickpea dan kawan-kawannya tersenyum bahagia. Chickpea menyadari bahwa apa-apa yang telah ia alami—sejak berada di tanah (biji, bibit), lalu tumbuh bermandikan hujan dan sinar mentari, sampai direbus dalam periuk dan dimakan oleh manusia—semuanya mempunyai maksud-maksud mulia yang bersumber dari Cinta Ilahi. Nah, Jika suatu hari ada diantara teman-teman melihat kacang polong (entah di supermarket, di pasar, di meja atau di dapur) maka ingatlah blog saya ini. (^_^)

6 responses to this post.

  1. Nama Bung sebenarnya siapa?

    Reply

  2. Blog anda sudah nangkring di blog sy gan,,,
    link back ea…
    Nama : Moo Moo Blogs | Blognya Pendatang Baru
    link : http://moomooblogs.wordpress.com/

    Reply

  3. tengkyu mas bro, salam kenal balik ..
    tuker link ya, punya sampean sdh sy pasang di blogroll sy😀
    semoga bermanfaat

    Reply

  4. Posted by gogo on February 10, 2012 at 9:53 pm

    mantab bener kisahnya.. ampe sedikit termenung ane..

    salam kenal mas bro..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: